Lilo And Stitch

Kalau Lilo ditanya namanya, Lilo. Orang-orang sering melanjutkan, “Stitch mana?” “Kayak Kartun dong!” Padahal Lilo kan yang pandai main gitar. Hehehe Yang jelas, bedanya Lilo dan Lilo kartun jelas. Lilo cowok, laki-laki. Lilo kartun cewek alias perempuan. ;-P

Iklan

PR Angka Dua

Sore ini Lilo bangun dari tidur siangnya agak kesorean. Seperti biasanya dia malas kalau di suruh mandi.
“Lilo, mandi!” Kataku.
“Nggak mau ah!”
“Ayo mandi, habis mandi nanti ngerjain PR! Lilo dapat PR dari bu guru kan?”
“Iya!”
“Apa PR-nya hayo?”
“Buat angka dua!” Wah, rupanya dia ingat PR dari ibu gurunya.
“Nanti mau diajari sama bapak atau sama ibu?”
“Sama ibu aja!”
“Kenapa nggak sama bapak?”
“Nanti bapak nggak bisa buat angka dua!”
Mentang-mentang belum pernah ditungguin bapaknya waktu sekolah, dia merasa bapaknya nggak bisa buat angka dua. Hehehe.
“Ya bisa lah, Lo! Bapakmu kan pinter!”

Lilo di Usia Tiga

“Nggak mau! Nggak mau dicium! Jangan! Bapak bau kecut!” Begitulah yang dikatakan anakku, Lilo ketika bapaknya mau memeluk atau menciumnya. Hari ini dia genap berusia tiga tahun. Dia sudah mulai konsisten ketika sudah memutuskan sesuatu. Tidak mau dicium dan dipeluk bapaknya itu terus dia pertahankan, dan dia akan marah jika bapaknya memaksanya.

Lilo bergabung dengan PAUD bulan lalu. Di sana, dia mulai memiliki beberapa sahabat. Azka dan Nindy, dua di antaranya. Lilo tidak selalu harus duduk dengan mereka, tetapi bila mereka datang, pasti dia sambut dan perhatikan. Dengan beberapa teman, terutama perempuan, dia menghindar. “Lilo takut, nanti dicubit,” katanya.

Melvin adalah sahabatnya di rumah. Mereka sering sekali bertengkar, tapi akan saling mencari jika salah satu dari mereka tidak ada. “Tapi, kata Bang Evin, nggak pa pa kok Bu!” Sering dia katakan ketika saya mencoba melarangnya melakukan sesuatu.

Dua hari yang lalu, ada tetangga kost kami yang pindah kamar. Beliau mengosongkan almarinya, kemudian diletakkan di depan kamar. Ketika sore menjelang, seluruh penghuni kost masih melakukan aktivitas masing-masing, tiba-tiba terdengar suara “gubrak!” “Aww!” “Evin!” “Lilo!” Beberapa ibu berteriak bersama. Saya yang saat itu selesai mandi dan masih di dalam kamar, langsung lari mencari mereka. Kedua anak itu ada di bawah almari yang rubuh ke depan. Lilo menangis keras ketika almari itu diangkat, sedangkan Evin masih diam, bingung ketika ibu dan ayahnya mengangkatnya. Gusi depan berdarah dan benjolan cukup besar di dahi, saya dapati ketika memeriksa keadaan Lilo di kamar. Evin memperoleh goresan luka yang panjang di punggungnya. Uhhff, untunglah almari kayu itu agak enteng, jadi mereka tidak memperoleh luka yang mengkhawatirkan. Namun, lingkaran biru agak benjol, pastilah akan tampak di dahi Lilo ketika dia berfoto ulang tahun yang ketiga ini. Ah, benar-benar anak laki-laki!

Ah, tiga tahun tak terasa berlalu sudah. Suka, duka, bangga, bingung, gagal, dan berhasil datang silih berganti ketika kami mendidik dan mengasuh Lilo sampai saat ini. Harapan dan angan-angan ada di benak kami, rasanya masih jauh menggapainya. Namun yang pasti, hidup kami jadi lebih berwarna tiga tahun ini. Kami berharap akan terus bertahan sampai usia kami usai.

Selamat ulang tahun, Lilo! Kami berharap kami terus mengenal Allah yang rela hati yang telah mempercayakan kamu kepada kami, oleh karena itu kami menamaimu LILO. Dan biarlah kami juga terus memuji-muji Tuhan oleh karena kamu, ketika kami mengingatmu dan memberimu nama depan MIKTAM. Dan bagimu sendiri, berusahalah untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain karena kamu sudah diberkati oleh Allah. Maka, RADITYO nama belakangmu yang berarti matahari supaya kamu mengingatnya. Tuhan Yesus memberkatimu!

Cerita terakhir:
Di suatu siang yang gerimis, kami hendak pergi ke toko untuk membeli sesuatu. Lilo bersikeras untuk tetap berangkat dan memegang payung sendiri.
“Ah, Lilo sendiri aja, Bu!”
“Lho, kan payungnya cuma satu. Kalo Lilo yang pegang, Ibu nggak bisa ikut. Ibu kehujanan dong!”
“Ibu hujan-hujan aja!”
“Yah, nanti Ibu sakit dong! Kalo Ibu sakit gimana? Siapa yang ngrawat?”
“Nanti ibu berobat ke dokter dan Lilo yang rawat Ibu.” Untunglah hujannya belum lebat ketika angkot datang.
Sore harinya, ketika saya tiduran di kasur, Lilo menghampiri saya, “Lilo mau rawat ibu.” Dia mengambil selembar tisu, kemudian mengusap-usapkannya ke wajah saya. “Sudah, Bu! Cepat sembuh ya, Bu!” Wkwkwkwkwk.

Ketika Lilo Mulai Berdoa

Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Barangsiapa tidak menyambut kerajaan surga seperti anak kecil, dia tidak layak masuk surga.” Awalnya saya memahami arti pernyataan itu bahwa saya harus polos tanpa memikirkan hal yang lain. Namun dalam setahun ini pemahaman pernyataan tersebut dipertajam oleh Allah, bahkan dimulai ketika saya memiliki anak.

Ketika saya dan suami mulai mengajarkan kepada anak saya untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, dia sangat percaya bahwa apa pun permintaannya Tuhan Yesus akan mengabulkan. Saat itu usianya belum genap 2 tahun. Pernyataan-pernyataan imannya yang sederhana kadang membuat saya terharu dan sadar bahwa seharusnya saya pun beriman seperti yang dia lakukan.

Anak saya begitu mudah percaya bahwa Tuhan Yesus segera menyembuhkan sakitnya begitu selesai dia berdoa. Hal ini sangat menolong kami ketika dia menangis karena jatuh atau terluka. Sambil memegang bagian yang sakit saya ajak dia berdoa, “Tuhan Yesus, tolong sembuhkan kaki Lilo! Terima kasih! Amin!” Setelah itu, dia akan berhenti menangis dan kalau ditanya, “Sudah sembuh?” Dia akan mengangguk dan bilang “Sudah disembuhkan Tuhan Yesus!”

Suatu kali pernah anak saya mengalami muntaber yang cukup parah. Setiap kali makan akan dimuntahkan lagi dan diare yang berulang-ulang dalam sehari. Dokter memeriksanya tiap hari selama tiga hari. Dua kali obat ditambahi untuk memulihkan kondisinya. Saya sangat khawatir karena dia nampak lemas dan selalu minta digendong. Asupan makanan dan minumannya pun sangat sedikit. Saya ajak dia berdoa. Saya sendiri masih sangat khawatir sehingga terpikir oleh saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Ketika saya menawarkan hal itu padanya, dia berkata, ”Lilo sembuh kok Bu, disembuhkan Tuhan Yesus.” Ah, andaikan imanku sesederhana itu. Dan memang dia tidak jadi dirawat di rumah sakit karena kondisinya membaik.

Beberapa bulan yang lalu saya dan anak saya belum tinggal sekota dengan suami saya, sehingga suami saya harus pulang ke rumah tiap dua minggu sekali. Gaji yang pas-pasan membuat kami mengharap pertolongan Allah lebih atas keuangan kami, terutama pada akhir bulan. Saya mulai mengajak anak saya berdoa untuk hal itu, “Tuhan Yesus, tolong kami, supaya bapak memiliki cukup duit untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke Jogja. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin!” Respon iman dia untuk hal ini pun kadang membuat saya terenyuh. Pernah suatu saat, ketika kami sedang mendoakan uang tiket tersebut, dia bermain dan menemukan beberapa lembar ribuan di dompet saya, dia lari dan berteriak, “Bu, ini ada duit buat beli tiket bapak!” Oh! Setelah itu jika dia mendapati saya sedang murung, dia akan berkata, “Ibu nggak punya duit ya? Yuk berdoa pada Tuhan Yesus!” Dan syukur pada Allah, suami saya melalui berbagai macam cara selalu bisa pulang pada waktunya.

Kemudian anak saya mulai mengerti bahwa dia bisa mendoakan orang-orang yang dia kenal dan benda-benda di sekelilingnya. Pernah suatu kali kami meminjam kamera digital milik adik saya. Suami saya membiarkan dia bermain dengan kamera itu sehingga dia bisa melihat hasil bidikannya sendiri. Ketika kamera itu sudah dikembalikan, dia kembali ingat dan minta bermain kembali, “Pak, Lilo mau foto-foto!” “Lho, kameranya kan sudah dikembalikan!” kata suami saya. “Jangan, Lilo mau kamera!” “Lho itu kan kamera Om Nor, kalau Lilo ingin punya kamera, Lilo harus berdoa dulu!” Rupanya suami saya ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengajar anak saya. “Ayo Pak, kita berdoa!” Suami saya pun menyetujui. “Tuhan Yesus, Lilo berdoa supaya Lilo bisa mempunyai sebuah kamera digital, agar Lilo bisa foto-foto!” Suami saya memimpinnya berdoa, “Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Dan respon spontannya, “Mana kameranya?”

Anak saya sangat tertarik dengan ikan. Kami memasang sebuah games tentang ikan dalam komputer kami. Di akhir beberapa levelnya ditunjukkan siluet ikan besar yang nantinya akan menjadi musuh di level tertinggi. Di atas kepala siluet ikan terdapat tanda tanya berwarna putih. Latar belakang musiknya yang seram membuat anak saya takut walaupun dia menantikan saat siluet ikan itu lewat.

Di rumah yang sekarang kami tinggali, kami menempati kamar di lantai dua. Jika kami akan masuk kamar, kami harus melewati sebuah ruangan terbuka yang lampunya dinyalakan bila dibutuhkan saja. Saat itu suami ada di kamar dan anak saya akan naik tangga dan merasa ngeri dengan ruangan gelap itu, dia berteriak, “Pak, Lilo takut tanda tanya!” dan suami saya kemudian turun, menggandengnya menaiki tangga dan masuk ke kamar. Kemudian saya menjelaskan ke dia, “Lilo kalau merasa takut, berdoalah pada Tuhan Yesus supaya Tuhan Yesus menemani Lilo sehingga Lilo nggak takut lagi!” “Ayo kita berdoa” katanya. “Tuhan Yesus, saat ini Lilo merasa takut. Tolong Lilo, temani Lilo supaya tidak takut lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Sejak saat itu, ketika dia melewati ruangan itu, dia akan berkata, “Lilo nggak takut tanda tanya lagi. Karena Tuhan Yesus menemani Lilo!”

Saat ini usia Lilo 2 tahun 8 bulan, dan dia sedang berdoa untuk rumah baru. Terjadilah apa yang menjadi imannya. Dan saya pun belajar beriman seperti iman anak saya.

Lilo Kangen Lojajar

Lilo dan saya mempunyai tokoh yang dijadikan bahan untuk cerita. Tokohnya bernama Pipi dan Popo. Katak kakak beradik ini memiliki banyak aktivitas. Aktivitas akhir-akhir ini yang sering diajukan Lilo adalah Pipi dan Popo di Lojajar.
Lojajar adalah kampung di Jogja tempat kami tinggal sebelumnya. Kami pindah ke Jakarta sekitar sebulan yang lalu. Masa adaptasi kami ini mungkin yang membuat Lilo “home sick”. Dari rumah luas dengan lapangan di depan rumah ke kamar kos kecil dan gelap dengan tetangga yang berdempetan.
Pipi dan Popo main bola di Lojajar. Lilo masih hafal beberapa anak yang sering bermain di lapangan depan rumah.
Ah, kami kangen Jogja!

Jakarta, 2 Sept 2009

Kekuatan Kabar Baik

Roma 10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Anak saya yang berumur 2 tahun adalah penggemar film “Finding Nemo”.. Hampir setiap hari dia menonton film tersebut, dan biasanya meminta saya untuk menemaninya. Saya memperkenalkan film itu ketika dia berumur delapan bulan karena ingin memperkenalkan warna dan obyek bergerak kepadanya. Berhubung film kartun yang saya miliki cuma itu, akhirnya setiap hari kami memutarnya. Dan dia akhirnya ketagihan.
Film itu menceritakan usaha seekor ikan badut untuk menemukan kembali anaknya yang diambil oleh manusia. Nemo, adalah anak tunggal ayahnya, Marlin. Seluruh calon saudaranya dan ibunya mati diserang ikan hiu pemangsa. Nemo selamat, namun siripnya cacat. Dia dibesarkan oleh sang ayah dengan perlindungan yang ketat. Ayahnya berjanji akan menjaganya dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Ketika Nemo memasuki usia sekolah, dia begitu antusias. Sedangkan ayahnya begitu khawatir sehingga dia menyusul ketika dia tahu bahwa sekolah akan diadakan di Drop Off, tempat istri dan calon anak-anaknya mati. Nemo sangat tidak menyukai tindakan ayahnya ini. Dia bertekad membuktikan bahwa dia mampu dengan berenang mendekati sebuah perahu dan menyentuhnya. Namun malang nasibnya. Seorang penyelam berhasil menjaringnya dan dia dibawa pergi. Marlin panik. Dia berusaha mengejar perahu yang membawa Nemo pergi. Perjalanan inilah yang menjadi cerita dalam film ini.
Sesuatu yang menarik saya ketika saya mencermati film yang saya tonton berulang-ulang ini, yaitu kekuatan kabar baik. Marlin bercerita kepada sekumpulan anak penyu laut tentang perjalanannya dari karang tempat ia tinggal sampai di arus Australia Timur. Juga tujuannya untuk menemukan Nemo di Sidney. Cerita itu diteruskan dari mulut ke mulut, sedemikian secepatnya sehingga Nemo yang ada dalam akuarium di Sidney pun akhirnya mendengar.
Kabar tentang perjuangan ayahnya untuk menemukannya, mendorong Nemo untuk melakukan tindakan untuk membebaskan diri dari akuarium. Jika tidak membebaskan diri dia akan mati oleh Darla –gadis kecil pembunuh ikan. Berbagai cara dia coba. Sampai akhirnya dia menemukan jalan kembali ke laut dengan bantuan teman-temannya dan bertemu dengan ayahnya.
Kekuatan kabar baik bisa mendorong seseorang untuk bertindak. Kekuatan kabar baik mendorong Nemo untuk membebaskan dirinya dari ancaman maut. Kabar baik apa yang kita miliki? Apa respons kita? Saya jadi teringat dengan kabar baik yang saya miliki yaitu kabar baik tentang keselamatan yang sudah diberikan Yesus bagi hidup saya. Pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah saya mengabarkan kabar baik itu, sehingga orang lain bertindak untuk menerima keselamatan itu? Pernah ada, tapi sudah lama tidak.
Finding Nemo mengingatkan saya tentang hal itu. Terima kasih Lilo…

Cerita Tentang Anakku

Namanya Lilo. Miktam Lilo Radityo nama lengkapnya. Miktam artinya mazmur, pujian bagi Allah. Lilo dari serapan bahasa jawa Lelo yang artinya rela hati. Kami mengenal Allah yang rela hati ketika dia lahir 20 Bulan yang lalu. Radityo berarti Matahari. Itu impian kami untuk dia, supaya jadi matahari bagi orang-orang di sekelilingnya, termasuk kami orang tuanya.
Sekarang Lilo belajar menyebut nama lengkap orang tuanya. sudah berhasil untuk bapaknya, tapi belum berhasil untuk saya, ibunya. Mulai banyaka kata-kata yang menjadi ekspresinya. Dia sedang belajar berdoa. Sebelum makan dan sebelum tidur. Dia mulai dengan menyebut nama Tuhan Yesus dan diakhir dengan kata aa – minnn. Selebihnya mengangguk-angguk mengikuti kata-kata saya.
Dia senang menonton film Finding Nemo dan Teletubbies, dia belajar menirukannya dan memahami hal-hal baru. Curios Goerge adalah serial TV yang diminatinya. Dia gemar membolak balik buku dengan gambar-gambar menarik. Yang paling ia minati adalah gambar binatang dan kendaraan, karena dia bisa menirukan suaranya. Sebenarnya hal yang awal ingin saya ajarkan kepadanya adalah membaca, namun sayang saya belum memahami metode membaca balita dan nggak punya kartu baca juga… he.. he.. he