Ketika Lilo Mulai Berdoa

Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Barangsiapa tidak menyambut kerajaan surga seperti anak kecil, dia tidak layak masuk surga.” Awalnya saya memahami arti pernyataan itu bahwa saya harus polos tanpa memikirkan hal yang lain. Namun dalam setahun ini pemahaman pernyataan tersebut dipertajam oleh Allah, bahkan dimulai ketika saya memiliki anak.

Ketika saya dan suami mulai mengajarkan kepada anak saya untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, dia sangat percaya bahwa apa pun permintaannya Tuhan Yesus akan mengabulkan. Saat itu usianya belum genap 2 tahun. Pernyataan-pernyataan imannya yang sederhana kadang membuat saya terharu dan sadar bahwa seharusnya saya pun beriman seperti yang dia lakukan.

Anak saya begitu mudah percaya bahwa Tuhan Yesus segera menyembuhkan sakitnya begitu selesai dia berdoa. Hal ini sangat menolong kami ketika dia menangis karena jatuh atau terluka. Sambil memegang bagian yang sakit saya ajak dia berdoa, “Tuhan Yesus, tolong sembuhkan kaki Lilo! Terima kasih! Amin!” Setelah itu, dia akan berhenti menangis dan kalau ditanya, “Sudah sembuh?” Dia akan mengangguk dan bilang “Sudah disembuhkan Tuhan Yesus!”

Suatu kali pernah anak saya mengalami muntaber yang cukup parah. Setiap kali makan akan dimuntahkan lagi dan diare yang berulang-ulang dalam sehari. Dokter memeriksanya tiap hari selama tiga hari. Dua kali obat ditambahi untuk memulihkan kondisinya. Saya sangat khawatir karena dia nampak lemas dan selalu minta digendong. Asupan makanan dan minumannya pun sangat sedikit. Saya ajak dia berdoa. Saya sendiri masih sangat khawatir sehingga terpikir oleh saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Ketika saya menawarkan hal itu padanya, dia berkata, ”Lilo sembuh kok Bu, disembuhkan Tuhan Yesus.” Ah, andaikan imanku sesederhana itu. Dan memang dia tidak jadi dirawat di rumah sakit karena kondisinya membaik.

Beberapa bulan yang lalu saya dan anak saya belum tinggal sekota dengan suami saya, sehingga suami saya harus pulang ke rumah tiap dua minggu sekali. Gaji yang pas-pasan membuat kami mengharap pertolongan Allah lebih atas keuangan kami, terutama pada akhir bulan. Saya mulai mengajak anak saya berdoa untuk hal itu, “Tuhan Yesus, tolong kami, supaya bapak memiliki cukup duit untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke Jogja. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin!” Respon iman dia untuk hal ini pun kadang membuat saya terenyuh. Pernah suatu saat, ketika kami sedang mendoakan uang tiket tersebut, dia bermain dan menemukan beberapa lembar ribuan di dompet saya, dia lari dan berteriak, “Bu, ini ada duit buat beli tiket bapak!” Oh! Setelah itu jika dia mendapati saya sedang murung, dia akan berkata, “Ibu nggak punya duit ya? Yuk berdoa pada Tuhan Yesus!” Dan syukur pada Allah, suami saya melalui berbagai macam cara selalu bisa pulang pada waktunya.

Kemudian anak saya mulai mengerti bahwa dia bisa mendoakan orang-orang yang dia kenal dan benda-benda di sekelilingnya. Pernah suatu kali kami meminjam kamera digital milik adik saya. Suami saya membiarkan dia bermain dengan kamera itu sehingga dia bisa melihat hasil bidikannya sendiri. Ketika kamera itu sudah dikembalikan, dia kembali ingat dan minta bermain kembali, “Pak, Lilo mau foto-foto!” “Lho, kameranya kan sudah dikembalikan!” kata suami saya. “Jangan, Lilo mau kamera!” “Lho itu kan kamera Om Nor, kalau Lilo ingin punya kamera, Lilo harus berdoa dulu!” Rupanya suami saya ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengajar anak saya. “Ayo Pak, kita berdoa!” Suami saya pun menyetujui. “Tuhan Yesus, Lilo berdoa supaya Lilo bisa mempunyai sebuah kamera digital, agar Lilo bisa foto-foto!” Suami saya memimpinnya berdoa, “Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Dan respon spontannya, “Mana kameranya?”

Anak saya sangat tertarik dengan ikan. Kami memasang sebuah games tentang ikan dalam komputer kami. Di akhir beberapa levelnya ditunjukkan siluet ikan besar yang nantinya akan menjadi musuh di level tertinggi. Di atas kepala siluet ikan terdapat tanda tanya berwarna putih. Latar belakang musiknya yang seram membuat anak saya takut walaupun dia menantikan saat siluet ikan itu lewat.

Di rumah yang sekarang kami tinggali, kami menempati kamar di lantai dua. Jika kami akan masuk kamar, kami harus melewati sebuah ruangan terbuka yang lampunya dinyalakan bila dibutuhkan saja. Saat itu suami ada di kamar dan anak saya akan naik tangga dan merasa ngeri dengan ruangan gelap itu, dia berteriak, “Pak, Lilo takut tanda tanya!” dan suami saya kemudian turun, menggandengnya menaiki tangga dan masuk ke kamar. Kemudian saya menjelaskan ke dia, “Lilo kalau merasa takut, berdoalah pada Tuhan Yesus supaya Tuhan Yesus menemani Lilo sehingga Lilo nggak takut lagi!” “Ayo kita berdoa” katanya. “Tuhan Yesus, saat ini Lilo merasa takut. Tolong Lilo, temani Lilo supaya tidak takut lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Sejak saat itu, ketika dia melewati ruangan itu, dia akan berkata, “Lilo nggak takut tanda tanya lagi. Karena Tuhan Yesus menemani Lilo!”

Saat ini usia Lilo 2 tahun 8 bulan, dan dia sedang berdoa untuk rumah baru. Terjadilah apa yang menjadi imannya. Dan saya pun belajar beriman seperti iman anak saya.