PR Angka Dua

Sore ini Lilo bangun dari tidur siangnya agak kesorean. Seperti biasanya dia malas kalau di suruh mandi.
“Lilo, mandi!” Kataku.
“Nggak mau ah!”
“Ayo mandi, habis mandi nanti ngerjain PR! Lilo dapat PR dari bu guru kan?”
“Iya!”
“Apa PR-nya hayo?”
“Buat angka dua!” Wah, rupanya dia ingat PR dari ibu gurunya.
“Nanti mau diajari sama bapak atau sama ibu?”
“Sama ibu aja!”
“Kenapa nggak sama bapak?”
“Nanti bapak nggak bisa buat angka dua!”
Mentang-mentang belum pernah ditungguin bapaknya waktu sekolah, dia merasa bapaknya nggak bisa buat angka dua. Hehehe.
“Ya bisa lah, Lo! Bapakmu kan pinter!”

Ketika Lilo Mulai Berdoa

Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Barangsiapa tidak menyambut kerajaan surga seperti anak kecil, dia tidak layak masuk surga.” Awalnya saya memahami arti pernyataan itu bahwa saya harus polos tanpa memikirkan hal yang lain. Namun dalam setahun ini pemahaman pernyataan tersebut dipertajam oleh Allah, bahkan dimulai ketika saya memiliki anak.

Ketika saya dan suami mulai mengajarkan kepada anak saya untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, dia sangat percaya bahwa apa pun permintaannya Tuhan Yesus akan mengabulkan. Saat itu usianya belum genap 2 tahun. Pernyataan-pernyataan imannya yang sederhana kadang membuat saya terharu dan sadar bahwa seharusnya saya pun beriman seperti yang dia lakukan.

Anak saya begitu mudah percaya bahwa Tuhan Yesus segera menyembuhkan sakitnya begitu selesai dia berdoa. Hal ini sangat menolong kami ketika dia menangis karena jatuh atau terluka. Sambil memegang bagian yang sakit saya ajak dia berdoa, “Tuhan Yesus, tolong sembuhkan kaki Lilo! Terima kasih! Amin!” Setelah itu, dia akan berhenti menangis dan kalau ditanya, “Sudah sembuh?” Dia akan mengangguk dan bilang “Sudah disembuhkan Tuhan Yesus!”

Suatu kali pernah anak saya mengalami muntaber yang cukup parah. Setiap kali makan akan dimuntahkan lagi dan diare yang berulang-ulang dalam sehari. Dokter memeriksanya tiap hari selama tiga hari. Dua kali obat ditambahi untuk memulihkan kondisinya. Saya sangat khawatir karena dia nampak lemas dan selalu minta digendong. Asupan makanan dan minumannya pun sangat sedikit. Saya ajak dia berdoa. Saya sendiri masih sangat khawatir sehingga terpikir oleh saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Ketika saya menawarkan hal itu padanya, dia berkata, ”Lilo sembuh kok Bu, disembuhkan Tuhan Yesus.” Ah, andaikan imanku sesederhana itu. Dan memang dia tidak jadi dirawat di rumah sakit karena kondisinya membaik.

Beberapa bulan yang lalu saya dan anak saya belum tinggal sekota dengan suami saya, sehingga suami saya harus pulang ke rumah tiap dua minggu sekali. Gaji yang pas-pasan membuat kami mengharap pertolongan Allah lebih atas keuangan kami, terutama pada akhir bulan. Saya mulai mengajak anak saya berdoa untuk hal itu, “Tuhan Yesus, tolong kami, supaya bapak memiliki cukup duit untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke Jogja. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin!” Respon iman dia untuk hal ini pun kadang membuat saya terenyuh. Pernah suatu saat, ketika kami sedang mendoakan uang tiket tersebut, dia bermain dan menemukan beberapa lembar ribuan di dompet saya, dia lari dan berteriak, “Bu, ini ada duit buat beli tiket bapak!” Oh! Setelah itu jika dia mendapati saya sedang murung, dia akan berkata, “Ibu nggak punya duit ya? Yuk berdoa pada Tuhan Yesus!” Dan syukur pada Allah, suami saya melalui berbagai macam cara selalu bisa pulang pada waktunya.

Kemudian anak saya mulai mengerti bahwa dia bisa mendoakan orang-orang yang dia kenal dan benda-benda di sekelilingnya. Pernah suatu kali kami meminjam kamera digital milik adik saya. Suami saya membiarkan dia bermain dengan kamera itu sehingga dia bisa melihat hasil bidikannya sendiri. Ketika kamera itu sudah dikembalikan, dia kembali ingat dan minta bermain kembali, “Pak, Lilo mau foto-foto!” “Lho, kameranya kan sudah dikembalikan!” kata suami saya. “Jangan, Lilo mau kamera!” “Lho itu kan kamera Om Nor, kalau Lilo ingin punya kamera, Lilo harus berdoa dulu!” Rupanya suami saya ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengajar anak saya. “Ayo Pak, kita berdoa!” Suami saya pun menyetujui. “Tuhan Yesus, Lilo berdoa supaya Lilo bisa mempunyai sebuah kamera digital, agar Lilo bisa foto-foto!” Suami saya memimpinnya berdoa, “Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Dan respon spontannya, “Mana kameranya?”

Anak saya sangat tertarik dengan ikan. Kami memasang sebuah games tentang ikan dalam komputer kami. Di akhir beberapa levelnya ditunjukkan siluet ikan besar yang nantinya akan menjadi musuh di level tertinggi. Di atas kepala siluet ikan terdapat tanda tanya berwarna putih. Latar belakang musiknya yang seram membuat anak saya takut walaupun dia menantikan saat siluet ikan itu lewat.

Di rumah yang sekarang kami tinggali, kami menempati kamar di lantai dua. Jika kami akan masuk kamar, kami harus melewati sebuah ruangan terbuka yang lampunya dinyalakan bila dibutuhkan saja. Saat itu suami ada di kamar dan anak saya akan naik tangga dan merasa ngeri dengan ruangan gelap itu, dia berteriak, “Pak, Lilo takut tanda tanya!” dan suami saya kemudian turun, menggandengnya menaiki tangga dan masuk ke kamar. Kemudian saya menjelaskan ke dia, “Lilo kalau merasa takut, berdoalah pada Tuhan Yesus supaya Tuhan Yesus menemani Lilo sehingga Lilo nggak takut lagi!” “Ayo kita berdoa” katanya. “Tuhan Yesus, saat ini Lilo merasa takut. Tolong Lilo, temani Lilo supaya tidak takut lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Sejak saat itu, ketika dia melewati ruangan itu, dia akan berkata, “Lilo nggak takut tanda tanya lagi. Karena Tuhan Yesus menemani Lilo!”

Saat ini usia Lilo 2 tahun 8 bulan, dan dia sedang berdoa untuk rumah baru. Terjadilah apa yang menjadi imannya. Dan saya pun belajar beriman seperti iman anak saya.

Menyapih

Menjelang seorang anak berusia dua tahun, para ibu yang menyusui anaknya biasanya sibuk menyiapkan penyapihan. Termasuk saya, sebulan menjelang Lilo berulang tahun kedua saya sudah bertanya sana sini dan membaca ini itu tentang bagaimana cara menyapih. Saya pikir bukan hanya untuk anak pertama saja. Ibu yang sudah pernah memiliki anak pun perlu menyiapkan penyapihan ini, karena tidak ada anak yang sama, respons mereka ketika disapih akan berbeda-beda.
Melakukan penyapihan pada seorang anak memang seperti melakukan suatu dobrakan besar dalam kehidupan sang anak maupun ibunya. Menurut berbagai sumber ada yang berakibat demam pada anak atau ibu. Juga jika tidak ditangani dengan baik ada yang mengakibatkan anak merasa ditolak dan dia menjadi pendiam atau pemarah. Melepaskan kebiasaan yang sudah rutin dilakukan hampir 2 tahun memang bukan sesuatu yang mudah.
Namun demikian, penyapihan mutlak perlu dilakukan bagi anak yang sudah berusia 2 tahun. Mengapa? Karena setelah 2 tahun ASI tidak lagi cukup bagi anak. Selain karena kandungan gizinya menurun, juga karena kebutuhan gizi anak meningkat. Penyapihan juga perlu dilakukan jika seorang ibu dalam keadaan hamil. Seorang teman yang memiliki anak 16 bulan terpaksa melakukan penyapihan awal pada anaknya karena ada janin di dalam kandungannya. Dia sempat tetap memberikan ASI-nya pada sang anak, dengan alasan tidak tega melepaskannya. Akibatnya, si anak menjadi lemas, pucat dan sakit-sakitan. Saya tidak begitu paham alasan medisnya, tapi menurut pemikiran saya, si anak dipaksa meminum ASI yang sudah tidak pas lagi untuk dirinya, sehingga tidak menjadi konsumsi yang sehat, malah menjadi racun bagi tubuhnya.
Alasan lain mengapa penyapihan perlu dilakukan adalah untuk perkembangan yang sehat bagi anak itu sendiri. Baik perkembangan secara fisik maupun perkembangan secara psikis. Makanan yang baik bagi anak yang berusia 2 tahun adalah makanan yang keras, bukan lagi ASI. Anak berusia 2 tahun diharapkan sudah lulus dalam pelajaran perubahan makanan dari ASI eksklusif di usia 6 bulan, bubur susu, bubur, nasi tim, dan kemudian makanan yang lebih keras. Secara psikis, anak usia 2 tahun harus sudah siap lepas dari ibunya. Dia harus mulai belajar berinteraksi lebih banyak dengan lingkungannya daripada tidur bergelung di dada ibunya.
Beberapa trik yang sering dilakukan para ibu yang bisa saya kumpulkan adalah dengan jamu tradisional. Ada yang menggunakan jamu yang membuat ASI terasa pahit, sehingga si anak tidak lagi mau menyusu. Ada juga yang menggunakan jamu yang membuat anak tertidur dengan mudah tanpa menyusu. Trik yang lain adalah dengan mengolesi puting payudara ibu dengan sesuatu yang berasa pahit, seperti brotowali, atau yang berasa pedas, seperti minyak kayu putih, atau yang berwarna aneh, merah, putih, dan lain-lain supaya anak tidak mau lagi mengenyut puting ibu. Bahkan ada juga yang berpura-pura payudaranya terluka dengan menempelkan plester, sehingga anak tidak mau lagi menyusu. Trik yang lain adalah memisahkan ibu dengan anaknya beberapa hari. Ada yang hanya dengan berpindah kamar, sehingga beberapa malam si anak tidak tidur dengan ibunya. Ada yang cukup ekstrem, dengan benar-benar ditinggal keluar kota.
Saat ini sudah tepat sebulan Lilo tidak lagi nenen dengan saya. Saya bersyukur sudah bisa melewatinya dengan baik. Saya mau membagikan bagaimana menyiapkan penyapihan, berdasarkan pengalaman saya.
1. Komunikasikan seawal mungkin dengan anak. Saya membicarakan hal ini dengan Lilo sekitar sebulan sebelumnya. “Nak, bulan depan umurmu sudah 2 tahun, sudah bukan bayi lagi, jadi Lilo sudah nggak boleh nenen lagi, karena nenen hanya untuk adik bayi.” Saya katakan itu berulang-ulang dan saya pun takjub ketika dia sangat memahami yang saya katakan, terekam dengan baik di kepalanya ketika saatnya dia disapih sampai sekarang.
2. Minta tolong orang lain untuk membantu, bisa ayahnya, nenek, kakek, tante, atau orang lain yang kita percayai dan cukup dekat dengan anak. Biasanya anak akan rewel dan minta nenen menjelang tidur malam. Digantikan oleh orang lain ketika menidurkan anak sangat menolong kesuksesan proses penyapihan. Suami saya sangat menolong saya ketika menyapih Lilo. Dia dengan sabar menemani Lilo, menghibur dan menggendongnya ketika dia menangis minta nenen. Dia tidur di samping Lilo sambil bernyanyi dan bercerita sampai akhirnya Lilo tertidur. Saya tahu dia lelah setelah perjalanan jauh dan besoknya harus kembali lagi, tapi dia melakukannya dengan sabar.
3. Anda harus tega dan jangan mudah putus asa. Mendengarkan anak menangis dalam waktu yang lama itu menyayatkan hati. Beberapa kali saya tidak tahan dan ingin kembali menyusui Lilo dari pada mendengarkan dia menangis. Namun, saya ingat nasehat beberapa orang, “Kamu harus tega lho! Kalau dia nangis biarkan saja. Soalnya kalau kamu nggak tega, itu mempersulit proses penyapihannya!” Apalagi kalau sudah pernah berhasil sehari misalnya, tapi hari kedua, karena Anda capek, Anda menyerah dan kembali menyusui. Mungkin butuh waktu yang jauh lebih panjang.
Beberapa kali Lilo tidur di sebelah saya, “Bu, nenen! Katanya. “Lho, Lilo kan sudah besar? Nenen itu buat siapa, hayo?” “Buat adik bayi,” katanya sambil tertawa. Tampaknya dia menggodai saya.

Hai! aku udah nggak nenen lho

Hai! aku udah nggak nenen lho