Gadis Kecil di Tepi Sungai ~1

Seorang gadis kecil duduk sendirian di tepi Sungai Hitam. Biasanya dia bersama teman-temannya atau dengan adik laki-lakinya, namun kali ini dia sendirian saja. Ya, karena dia sedang ingin sendirian saja. Dia ingin memikirkan sesuatu, tepatnya berdoa untuk sesuatu. Untuk orang tuanya, untuk keluarganya, dan untuk dirinya sendiri. Keluarganya sedang dalam masalah besar, antara hidup dan mati.

Dia memilih tepi Sungai Hitam, karena dia sangat mengagumi sungai ini. airnya jernih, suaranya gemericik menyejukkan hati. Hampir setiap hari dia meluangkan waktunya untuk duduk dan mengagumi sungai ini. Kata orang sungai ini sangat panjang lebih dari 1.500 mil. Dia sendiri sulit membayangkan seberapa panjang 1.500 mil itu. Sungai ini berasal dari gunung yang jauh tak terlihat. Kata orang ada danau besar di sana yang menjadi asal sungai ini. Tetapi ada orang yang berkata, bukan dari danau itu, melainkan dari sungai kecil yang terus mengalir dari atas gunung. Entahlah, dia sendiri kurang tertarik dengan asal sungai ini. Lebih-lebih banyak cerita yang menyeramkan dari orang-orang yang pernah mencoba ke sana. Orang-orang itu menjumpai buaya, ular, dan binatang aneh lainnya. Jalannya juga gelap dan berbatu-batu. Belum cerita-cerita takhayul lainnya.

Yang lebih menarik baginya adalah arah sungai ini mengalir. Ayahnya bercerita kepadanya, sungai ini menuju lautan yang luas. Sebelum mencapai lautan, sungai ini terpecah menjadi beberapa aliran kecil, namun masih cukup lebar untuk dilewati. Di daerah inilah terdapat pertemuan antara penjual dan pembeli. Banyak saudagar kapal dari jauh yang membawa dagangan mereka. Sementara orang-orang daratan membawa hasil bumi dan ternak mereka untuk dijual. Selain itu banyak sekali hiburan yang ditawarkan di kawasan ini. Yang paling menarik hatinya adalah para pedagang itu dan keluarganya. Mereka tampan-tampan dan cantik-cantik. Pakaian mereka gemerlapan. Perhiasan mereka tampak pas di wajah mereka yang menarik. Dan yang lebih mengagumkan lagi, mereka sangat pandai menari. Beberapa sempat datang ke desanya, karena laut sedang tidak bersahabat maka mereka memperpanjang waktu singgah mereka dan berkunjung ke desa-desa yang agak jauh.

Dia pernah berniat menyusuri sungai itu. Dia pernah mengajak adik laki-lakinya untuk melakukan hal ini. Pagi-pagi mereka berangkat dari rumah dengan bekal makanan dan minuman yang menurutnya cukup. Namun di tengah jalan mereka membatalkan rencana ini karena adiknya merengek kecapekan dan minta pulang. Sampai sekarang dia belum bertemu teman yang cocok untuk melakukan rencana ini lagi. Ayahnya berjanji akan mengajaknya suatu hari nanti kalau air sungai cukup banyak sehingga bisa disusuri dengan perahu. Dia menanti-nantikan saat itu.

Ada hal lain yang dia kagumi dari sungai ini. Sungai itu adalah sungai ajaib! Ya, sangat ajaib. Luapan air banjir dari sungai ini sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Saat banjir itulah semua orang bisa makan ikan. Sedangkan kalau tidak ada banjir, hanya gandum hasil panen merekalah yang menjadi santapan sehari-hari. Sebenarnya hasil panen mereka juga ditentukan oleh luapan sungai itu. Kalau sungai itu meluap tanahnya akan subur dan hasil panen akan bagus, sehingga layak dijual dan mereka bisa membeli barang-barang yang lain, seperti meja, kursi dan tembikar. Bahkan tahun lalu ayahnya dapat membeli tenda baru dari hasil panen mereka.

Saat ini dia sedang sedih, ibunya beberapa bulan yang lalu melahirkan seorang adik laki-laki. Adiknya itu lahir tepat beberapa saat setelah Raja Mesir murka melihat banyaknya orang Israel yang berdiam di Mesir dan memerintahkan semua bayi laki-laki Ibrani dilemparkan ke dalam sungai ini. Dia sangat sedih karena adiknya akan mati. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Dia menanti-nantikannya sejak masih dalam perut ibunya. Setiap ada kesempatan dia bercerita dan bernyanyi di depan perut ibunya supaya bisa menghibur adik kecilnya ini. Yang dilakukannya itu pernah hampir membuat dia dan adiknya yang berusia lima tahun bertengkar. Kata adiknya, yang dilakukannya itu bodoh. Untung ibu bisa menjelaskan, sehingga membuat adiknya terdiam. Menurutnya adiknya itulah yang cemburu. Mungkin dia khawatir kalau adik yang di dalam perut ini laki-laki akan menjadi saingannya. Karena dia sangat penakut. Dia tersenyum kalau mengingat hal itu.

Dan yang membuat sedih lagi adiknya harus mati di sungai ini. Sungai yang sangat dikaguminya. Sulit sekali dia membayangkan kalau hal itu terjadi. Dia tidak akan mungkin mampu duduk di sini menikmati sungai ini. Karena dia sangat sayang adiknya. Duduk di sini setelah adiknya mati pastilah akan membuatnya merana. Mungkin saat ini saat terakhir dia duduk di sini.
“Miriam, kemarilah nak!” terdengar ibunya memanggil.
“Tolong jaga adikmu ini. Ibu akan membantu ayahmu dulu. Kata orang-orang nanti malam akan ada banjir di sungai ini. Kita harus menyiapkan hasil panen kita di perahu supaya bisa dijual ayahmu di hulu.” Ibunya menjelaskan ketika ia mendekat.
“Iya, bu!” jawabnya. Ibunya segera merapikan diri dan bergegas pergi.
“Ibu!”
“Iya, ada apa lagi? Coba kau beri minum, kalau adikmu menangis! Hati-hati jangan sampai ketahuan para hamba raja!”
“Bolehkah saya bawa adik ke tepi sungai?”
“Apa? Mau kau bawa adikmu ke tempat akhir hidupnya? Belum waktunya Miriam!”
“Bukan, Bu! Di sana sejuk dan tenang. Pasti adik sangat senang dan menjadi lebih tenang, daripada di rumah panas!”
“Terserah kau sajalah! Tapi hati-hati dan jangan sampai ketahuan!”
“Iya, bu! Aku tahu!”

Gadis kecil itu segera membungkus adiknya dengan kain. Dia berjalan lambat sambil sesekali menggoyang gendongannya agar adiknya tenang. Sesampainya di tepi sungai, tepat dia duduk tadi, dibukanya tudung penutup kepala adiknya. Terlihat adiknya tersenyum. Mungkin adiknya mulai menikmati sejuknya udara dan merdunya gemericik air sungai itu. Dia mulai bersenandung. Dan adiknya pun akhirnya tertidur.
~*~

Malam pun menjelang. Dia kembali ke tepi sungai itu, namun dia tidak lagi sendirian. Suasana di tepi sungai itu tampak ramai. Beberapa perahu yang biasanya hanya terikat, tampak disiapkan dan mulai mengapung. Yah, permukaan air mulai naik.

Dia tidak bisa lagi duduk di tempat biasa. Dia harus berdiri agak jauh dari tepi sungai. Selain karena banyak orang yang sedang bekerja di sana juga karena air bisa datang tiba-tiba dan mengejutkan. Namun kejutan itulah yang dinantikan banyak orang.

Saluran-saluran air dibersihkan, supaya air bisa masuk dengan mudah ke lahan pertanian. Semua orang tampak bersemangat hari ini. Sungguh, sungai ini adalah sungai karunia Allah yang membawa sukacita bagi bangsanya! Ah, andaikan sungai ini bisa juga memberikan jalan keluar bagi permasalahan keluarganya juga!

Di kejauhan tampak beberapa pegawai istana lalu lalang. Pemandangan itu membuat hatinya bergejolak. Ya, Putri Firaun juga bersiap-siap untuk mandi. Dia sejak dulu memang mengagumi putri itu. Putri itu tidak hanya cantik, tetapi juga mempesona. Dia sendiri belum pernah berbicara dengan beliau, tetapi kata orang dia ramah dan baik hati, dan dia percaya itu! Pada masa-masa seperti ini, dia biasanya mencari tempat yang bisa leluasa mengamati sang putri mandi tanpa ketahuan. Kalau ketahuan dia bisa dimarahi orangtuanya. Tidak sopan! Padahal sebenarnya dia tidak bermaksud kurang ajar, dia hanya ingin mengagumi.

Namun, malam ini ada yang mengganjal hatinya ketika melihat putri yang cantik itu. Dia kembali teringat dengan keluarganya. Ah, andaikan putri itu bisa menolongnya! Andaikan dia bisa berbicara dengannya. Andaikan dia bisa mengusahakan suatu perubahan bagi keluarga, terutama untuk adiknya. Ah, masakan dia harus bergantung pada putri Mesir itu? Mereka kan percaya pada dewa sungai ini bukan pada Tuhan yang menciptakan sungai ini? Dia sendiri waktu kecil senang dengan dewa yang diceritakan orang-orang Mesir itu. Namun ketika dia mendengarkan cerita dari ayahnya tentang perbuatan besar yang Tuhan kerjakan bagi bangsanya dulu, dia memutuskan untuk percaya pada Tuhan saja.

Tuhan menyelamatkan bangsanya melalui Yusuf, saudara kandung bapa leluhurnya, yang dikirim lebih dulu ke Mesir untuk menyelamatkan bangsanya. Bapa leluhurnya sendiri, Lewi, bersekongkol dengan saudara-saudaranya untuk menyingkirkan Yusuf dari antara mereka. Setelah mengalami berbagai peristiwa yang menyusahkan dan menyenangkan akhirnya mereka semua tahu bahwa Tuhan yang menghendaki segala sesuatunya terjadi.

Satu perkataan Yusuf yang selalu diingat-ingat setiap orang dari bangsanya adalah, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Dia sendiri juga setuju dengan hal itu.

Gadis kecil itu terus memikirkan kata-kata Yusuf itu. Dan dia kembali asyik mengamati persiapan pegawai istana di Teberau itu. Dan dia menjadi makin yakin bahwa Raja Mesir mereka-rekakan yang jahat bagi bangsanya, tetapi Tuhan sanggup juga untuk mereka-rekakannya bagi kebaikan bangsanya.

Malam pun makin larut, gadis kecil itu pun kembali ke rumah untuk beristirahat karena banyak tugas yang harus dia kerjakan esok.
~*~

Lilo Kangen Lojajar

Lilo dan saya mempunyai tokoh yang dijadikan bahan untuk cerita. Tokohnya bernama Pipi dan Popo. Katak kakak beradik ini memiliki banyak aktivitas. Aktivitas akhir-akhir ini yang sering diajukan Lilo adalah Pipi dan Popo di Lojajar.
Lojajar adalah kampung di Jogja tempat kami tinggal sebelumnya. Kami pindah ke Jakarta sekitar sebulan yang lalu. Masa adaptasi kami ini mungkin yang membuat Lilo “home sick”. Dari rumah luas dengan lapangan di depan rumah ke kamar kos kecil dan gelap dengan tetangga yang berdempetan.
Pipi dan Popo main bola di Lojajar. Lilo masih hafal beberapa anak yang sering bermain di lapangan depan rumah.
Ah, kami kangen Jogja!

Jakarta, 2 Sept 2009

Janji Tuhanku

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri dan berlakulah setia,
dan bergembiralah karena TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya,
dan Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia;
jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya,
karena orang yang melakukan tipu daya.
Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu,
jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan,
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.”
(Mazmur 37:3-9)

“Tetapi percayakanlah dirimu kepada TUHAN!
Bersikaplah baik dan murah hati terhadap orang lain,
maka engkau akan hidup makmur, aman, dan tentram di negeri ini!
Bersukacitalah karena TUHAN,
maka Ia akan memenuhi segala keinginan hatimu!
Apa pun yang kaulakukan, serahkanlah semua itu kepada TUHAN.
Percayalah bahwa Ia akan menolong engkau untuk melaksanakannya dan Ia pasti akan menolongmu.
Semua orang akan tahu bahwa engkau tidak bersalah.
TUHAN akan menyatakan kebenaranmu dengan adil sehingga kebenaranmu itu bersinar seperti matahari pada tengah hari.
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan bersabarlah menantikan Dia!
Jangan iri hati terhadap orang-orang jahat yang hidup makmur!
Jangan marah!
Jangan bersungut-sungut dan merasa kuatir—semua itu hanya membawa celaka.
Karena orang-orang jahat akan dibinasakan, tetapi orang-orang yang mempercayakan diri kepada TUHAN akan dilimpahi berkat.”
(Mazmur 37:3-9 FAYH)

“Percayalah kepada TUHAN, dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri itu dan berlakulah setia.
Carilah kebahagiaanmu pada TUHAN, Ia akan memuaskan keinginan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN, berharaplah kepada-Nya, Ia akan menolongmu.
Ia akan menyatakan kesetiaanmu seperti terang, dan ketulusanmu seperti siang.
Nantikanlah TUHAN dengan hati yang tenang, tunggulah dengan sabar sampai Ia bertindak.
Jangan gelisah karena orang yang berhasil hidupnya, atau yang melakukan tipu muslihat.
Jangan marah dan panas hati, itu hanya membawa celaka.
Sebab orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi yang berharap kepada TUHAN akan mewarisi tanah itu.”
(Mazmur 37:3-9 BIS)

“Get insurance with GOD and do a good deed, settle down and stick to your last.
Keep company with GOD, get in on the best.
Open up before GOD, keep nothing back; he’ll do whatever needs to be done:
He’ll validate your life in the clear light of day and stamp you with approval at high noon.
Quiet down before GOD, be prayerful before him. Don’t bother with those who climb the ladder, who elbow their way to the top.
Bridle your anger, trash your wrath, cool your pipes—it only makes things worse. Before long the crooks will be bankrupt; GOD-investors will soon own the store.” (Psalms 37:3-9 Message)

“Trust in the LORD, and do good;
Dwell in the land, and feed on His faithfulness.
Delight yourself also in the LORD,
And He shall give you the desires of your heart.
Commit your way to the LORD, Trust also in Him,
And He shall bring it to pass.
He shall bring forth your righteousness as the light,
And your justice as the noonday.
Rest in the LORD, and wait patiently for Him;
Do not fret because of him who prospers in his way,
Because of the man who brings wicked schemes to pass.
Cease from anger, and forsake wrath; Do not fret––it only causes harm.
For evildoers shall be cut off; But those who wait on the LORD,
They shall inherit the earth.”
(Psalms 37:3-9 NKJV)

JOGJA, 6 April 2009

Untungnya Aku Nggak Punya Uang

Kring, kring. Pagi ini telepon rumahku berdering tepat pukul sembilan.
“Ah, pasti itu Om Nor!” kata ibuku kepada Lilo anakku. Lilo pun sudah siap berdiri di dekat telepon ketika aku mengangkat gagang telepon.
“Hallo!” kataku yakin kalau dia memang adikku. Biasanya memang hanya dia yang menelepon lewat telepon rumah.
“Aku tabrakan!” katanya gemetar.
“Hah, di mana?” sahutku.
“Aku tabrakan. Aku menabrak orang.”
“Heh ini siapa. Ini Nor tho?” Aku agak ragu karena suaranya agak berbeda dengan suara adikku biasanya.
“Heh jangan keras-keras. Jangan sampai orang lain dengar dulu. Ada siapa di rumah?” Suaranya mendesah dan sambil gemetaran.
“Ya ada ibu dan Ris.” Ibuku melihat raut wajahku dan mulai pasang telinga. Beliau sudah menarik Lilo menjauh dari tempatku berdiri.
“Ya udah, aku menabrak orang dan yang kutabrak mati. Sekarang aku mau dibawa ke kantor polisi,” katanya masih gemetar.
“Lha, trus gimana?” tanyaku setengah berteriak. Aku ingin tahu tentang keadaannya. Melihat waktu masih pukul sembilan pagi, berarti adikku baru pulang kerja shift malam, lalu pergi sarapan dulu baru pulang ke kosnya. Mungkin kecelakaan itu terjadi karena dia mengantuk.
“Jangan keras-keras. Kamu tenang dulu, aku ingin nggak banyak orang tahu dulu.”
“Ya, tapi kamu nggak papa kan?”
“Sekarang keluarga yang kutabrak minta uang ganti rugi.”
“Berapa?”
“Di rumah ada uang berapa?”
“Ehm. Berapa ya?” aku nggak sanggup mengingat nominal uang yang kumiliki.
“Aku butuh uang cepat di rumah ada berapa? Siapa saja di rumah?”
“Lha, kamu di mana sekarang?”
“Udahlah, yang kutabrak itu minta uang.”
“Berapa?”
“Dua orang yang mati, minta uang 250 juta. Di rumah ada uang berapa?” Mendengar nominal itu aku shock. Terbayang di kepalaku, kami nggak akan sanggup memenuhinya, dan adikku akan di penjara karenanya. Dan jelas berapa pun uang yang ada di rumah nggak akan cukup untuk memenuhi permintaan korban, bahkan untuk uang janji sekali pun.
“Lha, kamu ada di mana sekarang?”
“Aku di rumah yang mati.”
“Di sebelah mana itu.”
“Sudahlah, ada uang berapa di rumah?”
”Aku belum tahu ada berapa uang di rumah. Yang penting sekarang aku ke tempatmu. Kamu di mana? Aku akan menemanimu dulu!” Kataku tegas, karena pikirku aku harus punya strategi dulu menghadapi keluarga yang minta uang.
Klek, telepon ditutup.
Ibuku yang sudah menunggu dengan khawatir sejak tadi langsung bertanya, ”Ada apa?”
“Nor nabrak orang” Ibuku terkejut, beliau duduk bersandar ke tembok dan wajahnya mulai memucat.
“Dan orang yang ditabrak mati. Sekarang minta ganti rugi” Ibuku makin melemas.
“Sekarang aku punya uang seratus ribu.” Kata ibuku. Nah, kan? Aku sengaja nggak bilang nominal yang diminta, supaya nggak nambahin shocknya ibuku. Suasana rumah jadi mencekam. Kami beradu dengan pikiran kami masing-masing, aku, ibuku, dan adikku bungsu. Hanya Lilo yang masih asyik bermain dengan mobil-mobilannya.
Aku sendiri mulai memikirkan siapa teman yang mungkin bisa menolongku menyelesaikan masalah ini, minimal untuk menemaniku.
“Lha, sekarang dia di mana?” tanya ibuku.
”Nah, nggak tahu langsung ditutup.”
Pertanyaan ibuku ini menyadarkanku untuk mencoba menghubungi adikku. Kuraih handphone yang sedang kucharge, kuhubungi nomor HP adikku.
“Halo,” terdengar suara di seberang agak serak.
“Hai, kamu sekarang di mana?”
“Lha kenapa mbak?” Aku masih nggak percaya dengan jawabannya, aku pastikan lagi,
“Eh, kamu nggak papa to le?”
“Eh, lha wong aku tidur. Emangnya kenapa mbak?” langsung dada ini lega rasanya. Dan aku sadar bahwa aku tadi akan ditipu orang.
“Oh untunglah, untunglah!” aku sampai terduduk di lantai.
Kudengar suara ibuku, “Oh, jadi bukan Nor, oh puji Tuhan, puji Tuhan.”
“Emang kenapa tho, mbak?” Lalu kuceritakan tentang telepon yang barusan kuterima.

“Ah, aku sudah pulang sejak tadi dan sudah tidur di kos. Aku nggak papa kok! Lagian kalau aku nabrak sampai mati, pasti aku juga nggak bisa nelpon lagi, pasti terkapar juga.”
Iya juga ya, mengapa aku nggak sempat mikir segitu. Mungkin si penipu tadi naik mobil, jadi bisa nabrak mati sampai dua orang, sedangkan adikku hanya naik motor dan antara lokasi kerja dan kosnya nggak jauh, jadi nggak bakalan ngebut juga. Ah kalau aku sesadar itu. Tetapi, sampai sore, bahkan sampai adikku datang ke rumah, suara di telepon itu masih terngiang-ngiang dan memenuhi pikiranku. Ah sungguh menyebalkan.

Menyapih

Menjelang seorang anak berusia dua tahun, para ibu yang menyusui anaknya biasanya sibuk menyiapkan penyapihan. Termasuk saya, sebulan menjelang Lilo berulang tahun kedua saya sudah bertanya sana sini dan membaca ini itu tentang bagaimana cara menyapih. Saya pikir bukan hanya untuk anak pertama saja. Ibu yang sudah pernah memiliki anak pun perlu menyiapkan penyapihan ini, karena tidak ada anak yang sama, respons mereka ketika disapih akan berbeda-beda.
Melakukan penyapihan pada seorang anak memang seperti melakukan suatu dobrakan besar dalam kehidupan sang anak maupun ibunya. Menurut berbagai sumber ada yang berakibat demam pada anak atau ibu. Juga jika tidak ditangani dengan baik ada yang mengakibatkan anak merasa ditolak dan dia menjadi pendiam atau pemarah. Melepaskan kebiasaan yang sudah rutin dilakukan hampir 2 tahun memang bukan sesuatu yang mudah.
Namun demikian, penyapihan mutlak perlu dilakukan bagi anak yang sudah berusia 2 tahun. Mengapa? Karena setelah 2 tahun ASI tidak lagi cukup bagi anak. Selain karena kandungan gizinya menurun, juga karena kebutuhan gizi anak meningkat. Penyapihan juga perlu dilakukan jika seorang ibu dalam keadaan hamil. Seorang teman yang memiliki anak 16 bulan terpaksa melakukan penyapihan awal pada anaknya karena ada janin di dalam kandungannya. Dia sempat tetap memberikan ASI-nya pada sang anak, dengan alasan tidak tega melepaskannya. Akibatnya, si anak menjadi lemas, pucat dan sakit-sakitan. Saya tidak begitu paham alasan medisnya, tapi menurut pemikiran saya, si anak dipaksa meminum ASI yang sudah tidak pas lagi untuk dirinya, sehingga tidak menjadi konsumsi yang sehat, malah menjadi racun bagi tubuhnya.
Alasan lain mengapa penyapihan perlu dilakukan adalah untuk perkembangan yang sehat bagi anak itu sendiri. Baik perkembangan secara fisik maupun perkembangan secara psikis. Makanan yang baik bagi anak yang berusia 2 tahun adalah makanan yang keras, bukan lagi ASI. Anak berusia 2 tahun diharapkan sudah lulus dalam pelajaran perubahan makanan dari ASI eksklusif di usia 6 bulan, bubur susu, bubur, nasi tim, dan kemudian makanan yang lebih keras. Secara psikis, anak usia 2 tahun harus sudah siap lepas dari ibunya. Dia harus mulai belajar berinteraksi lebih banyak dengan lingkungannya daripada tidur bergelung di dada ibunya.
Beberapa trik yang sering dilakukan para ibu yang bisa saya kumpulkan adalah dengan jamu tradisional. Ada yang menggunakan jamu yang membuat ASI terasa pahit, sehingga si anak tidak lagi mau menyusu. Ada juga yang menggunakan jamu yang membuat anak tertidur dengan mudah tanpa menyusu. Trik yang lain adalah dengan mengolesi puting payudara ibu dengan sesuatu yang berasa pahit, seperti brotowali, atau yang berasa pedas, seperti minyak kayu putih, atau yang berwarna aneh, merah, putih, dan lain-lain supaya anak tidak mau lagi mengenyut puting ibu. Bahkan ada juga yang berpura-pura payudaranya terluka dengan menempelkan plester, sehingga anak tidak mau lagi menyusu. Trik yang lain adalah memisahkan ibu dengan anaknya beberapa hari. Ada yang hanya dengan berpindah kamar, sehingga beberapa malam si anak tidak tidur dengan ibunya. Ada yang cukup ekstrem, dengan benar-benar ditinggal keluar kota.
Saat ini sudah tepat sebulan Lilo tidak lagi nenen dengan saya. Saya bersyukur sudah bisa melewatinya dengan baik. Saya mau membagikan bagaimana menyiapkan penyapihan, berdasarkan pengalaman saya.
1. Komunikasikan seawal mungkin dengan anak. Saya membicarakan hal ini dengan Lilo sekitar sebulan sebelumnya. “Nak, bulan depan umurmu sudah 2 tahun, sudah bukan bayi lagi, jadi Lilo sudah nggak boleh nenen lagi, karena nenen hanya untuk adik bayi.” Saya katakan itu berulang-ulang dan saya pun takjub ketika dia sangat memahami yang saya katakan, terekam dengan baik di kepalanya ketika saatnya dia disapih sampai sekarang.
2. Minta tolong orang lain untuk membantu, bisa ayahnya, nenek, kakek, tante, atau orang lain yang kita percayai dan cukup dekat dengan anak. Biasanya anak akan rewel dan minta nenen menjelang tidur malam. Digantikan oleh orang lain ketika menidurkan anak sangat menolong kesuksesan proses penyapihan. Suami saya sangat menolong saya ketika menyapih Lilo. Dia dengan sabar menemani Lilo, menghibur dan menggendongnya ketika dia menangis minta nenen. Dia tidur di samping Lilo sambil bernyanyi dan bercerita sampai akhirnya Lilo tertidur. Saya tahu dia lelah setelah perjalanan jauh dan besoknya harus kembali lagi, tapi dia melakukannya dengan sabar.
3. Anda harus tega dan jangan mudah putus asa. Mendengarkan anak menangis dalam waktu yang lama itu menyayatkan hati. Beberapa kali saya tidak tahan dan ingin kembali menyusui Lilo dari pada mendengarkan dia menangis. Namun, saya ingat nasehat beberapa orang, “Kamu harus tega lho! Kalau dia nangis biarkan saja. Soalnya kalau kamu nggak tega, itu mempersulit proses penyapihannya!” Apalagi kalau sudah pernah berhasil sehari misalnya, tapi hari kedua, karena Anda capek, Anda menyerah dan kembali menyusui. Mungkin butuh waktu yang jauh lebih panjang.
Beberapa kali Lilo tidur di sebelah saya, “Bu, nenen! Katanya. “Lho, Lilo kan sudah besar? Nenen itu buat siapa, hayo?” “Buat adik bayi,” katanya sambil tertawa. Tampaknya dia menggodai saya.

Hai! aku udah nggak nenen lho

Hai! aku udah nggak nenen lho

My Dwelling Place

home-sweet-home

MAZMUR 90:1-2

“Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.”
Terjemahan Baru

“Prayer of Moses, the man of God. Lord, You have been our dwelling place in all generations. Before the mountains were brought forth, or ever You had formed the earth and the world, Even from everlasting to everlasting, You are God.”
New King James Version

“God, it seems you’ve been our home forever; long before the mountains were born, Long before you brought earth itself to birth, from “once upon a time” to “kingdom come”—you are God.”
The Message

“Doa Musa, abdi Allah. TUHAN, dari generasi ke generasi Engkau telah menjadi tempat kami bernaung. Sebelum gunung diciptakan, sebelum bumi dibentuk, Engkau adalah Allah yang kekal, tanpa awal dan tanpa akhir.”
Firman Allah Yang Hidup

“Doa Musa, hamba Allah. Ya TUHAN, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun. Sebelum gunung-gunung diciptakan, sebelum bumi dan dunia Kaubentuk, Engkaulah Allah yang kekal, tanpa awal tanpa akhir.”
Bahasa Indonesia Sehari-hari

“A Prayer of Moses, the man of God. Lord, you have been our resting-place in all generations. Before the mountains were made, before you had given birth to the earth and the world, before time was, and for ever, you are God.”
Bible in Basic English

“A Prayer by Moses, the man of God, The Hebrew word rendered “God” is “Elohim.” Lord, you have been our dwelling place for all generations. Before the mountains were brought forth, before you had formed the earth and the world, even from everlasting to everlasting, you are God.”
World English Bible

Saat ini kami masih menggumulkan untuk pindah. Suamiku bekerja di kota lain sejak enam bulan yang lalu, sementara aku masih di Jogja dan menunggu. Yah, menunggu itu yang kukerjakan. Idealnya, aku dan anakku segera menyusul suamiku, tapi itu belum juga dapat kami lakukan. Mengapa? Yah, rumah, salah satu yang menjadi alasannya. Belum ada tempat yang memadai bagi kami bertiga untuk berkumpul kembali. Suamiku sementara ini menumpang di rumah paman kami. Ada juga pilihan untuk ikut tinggal di sana. Kami pernah mencobanya sebulan, tapi tampaknya itu bukan jawaban pergumulan kami. Atau kami yang enggan? Kami tidak tahu.
Di Jogja, kami tinggal di rumah yang cukup nyaman milik budhe. Kami baru menempati rumah itu bulan April lalu, jadi belum setahun kami pindah. Kami juga masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Pindah lagi? Ah rasanya masih enggan juga.
Doa Musa ini memberikan suatu semangat baru dalam diriku untuk rela berpindah, mendobrak keengganan, dan meninggalkan kenyamanan. Tuhanlah yang memang sudah terbukti menjadi tempat bernaung, tempat perteduhan, rumah, dwelling place, tempat berlindung, tempat beristirahat dari generasi ke generasi, turun temurun.
Tafsiran gambar sampul Saat Teduh bulan Januari-Februari (gambar sampul karya He Qi, penafsir : Mona Bagasao-cave tersedia di http://www.heqigallery.com) menyatakan bahwa Maria dan Yusuf harus mengalaminya. Mereka berpindah-pindah dari Kanaan ke Mesir ke Kanaan dan kembali lagi. Hal itu juga telah dilakukan oleh para leluhur mereka. Abraham harus berangkat dari tanah kelahirannya, singgah dulu ke Mesir untuk bisa masuk ke tanah perjanjian. Yakub dan keluarganya harus keluar dari tanah perjanjian ke Mesir untuk dapat bertahan hidup dari kelaparan yang hebat. Musa menuntun kembali bangsa itu masuk tanah perjanjian. Tiang awan dan tiang api menjadi tempat bernaung mereka. Bahkan penjara digunakan Allah bagi Yusuf sebagai tempat perteduhan.
So, what? Yah, hari ini kubernyanyi:
“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami, turun temurun.
Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan,
bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
Engkaulah Allah.”

Driven

Dua hari yang lalu saya menonton film yang berjudul Driven di “Big Movies”nya Global TV. Salah satu pemerannya adalah Sylvester Stallone. Biasanya saya kurang suka dengan film yang dibintangi Sly karena pasti ada adu jotosnya, tetapi karena kali ini temanya berbeda dari biasanya, akhirnya saya jadi tertarik.
Film ini menceritakan tentang tampilnya seorang bintang muda dalam dunia balapan F1. Jimmy Bly adalah seorang pendatang baru di dunia balap F1. Dimanageri oleh kakaknya, akhirnya dia lolos masuk ke sebuah tim ternama di dunia balap F1. Namun dia hidup dalam bayang-bayang kakaknya yang posesif. Setiap latihan dan treatment harus melalui kakaknya itu. Hal ini dipandang tidak baik oleh pemilik tim tersebut yang akhirnya mendatangkan Joe Tanto (diperankan oleh Sylvester Stallone) untuk mengatasi masalah tersebut.
Joe Tanto adalah pembalap senior yang sudah cukup lama meninggalkan dunia balap F1. Alkisah, dia meninggalkan arena karena melakukan suatu kesalahan yang membahayakan rekan satu timnya. Kembalinya dia ke arena balap F1 dipandang remeh oleh mantan rekannya ini. Namun akhirnya mereka memulihkan hubungan setelah Joe memberikan masukan tentang hubungan mantan rekannya dengan sang pacar.
Tugas yang diberikan pada Joe untuk menolong Jimmy Bly tidaklah mulus. Awalnya dia menolak karena masih ingin menjadi juara. Namun akhirnya dia rela. Masuk ke kehidupan Jimmy tidaklah mudah, kakaknya selalu membatasi hubungan Jimmy dengan orang lain. Keterampilan Joe membuat Jimmy tertarik dan inilah yang mempermudah Joe masuk ke dalam kehidupan Jimmy.
Pada suatu balapan, Jimmy diturunkan dengan rekan yang lain. Joe, kakak Jimmy dan bos mereka memberikan panduan melalui earphone. Rekannya mengalami kecelakaan dan mobilnya terpental masuk ke danau. Jimmy tidak menghiraukan kakaknya, dia berhenti dan menolong rekannya tersebut. Mereka selamat, namun kaki kanannya retak. Kakaknya marah karenanya dan diam-diam pindah ke tim yang lain. Hal ini sempat membuat Jimmy down, dia merasa tidak mampu berbuat apa-apa tanpa kakaknya. Joe Tanto menyemangati dan mendukungnya untuk tetap ikut balapan.
Setelah melalui ujian dasar fisik, akhirnya Jimmy bisa kembali mengikuti balapan. Dan akhirnya memenangkan perlombaan ini, mengalahkan musuh bebuyutannya. Joe yang juga ikut dalam perlombaan ada di urutan ketiga.
Akhir yang mengesankan dalam film ini adalah ketika pemberian penghargaan pada sang juara, Joe berpesan pada Jimmy agar tetap menghargai kakaknya yang bagaimana pun telah menolong dia mencapai kemenangan ini.
Film ini mengingatkan saya tentang mentoring. Joe adalah mentor yang baik. Awalnya dia mengalami konflik dengan dirinya, namun ketika dia siap dengan tugas itu, dia tidak main-main. Dia berusaha dengan sungguh-sungguh agar yang dia mentori berhasil. Dia rela menjadi yang kemudian. Dia juga menghormati mentor yang lain dan menyadari bahwa yang dia berikan bukan segala-galanya tapi merupakan pelengkap dari yang sudah ada.
Saya mengingat pada mentor-mentor saya. Terima kasih telah membagikan sepenggal kehidupan kalian pada saya. Hal itu melengkapi saya dan membuat saya ada sebagaimana saya ada sekarang.
Saya juga mengingat orang-orang yang pernah saya mentori. Yang pernah saya bagikan hanyalah sepenggal pelajaran yang mungkin berguna bagi hidup kalian. Teruslah belajar dan carilah mentor baru bagi hidup kalian! Tuhan besertamu!

Weleh-weleh Antre

Pada hari-hari libur yang melewati akhir minggu (long weekend) tiket kereta api antar kota biasanya cepat terjual, ketika loket pemesanan dibuka sebulan sebelumnya. Terkadang orang-orang berebutan dan rela datang sebelum loket buka. Wajah-wajah orang dalam antrian menunjukkan kekuatiran kalau-kalau kehabisan tiket.
Setelah punya dua kali pengalaman mudik dengan mencari angkutan dadakan, tanpa pesan tiket dulu, yang hasilnya tidak terlalu menyenangkan, akhirnya aku dan suami ikut-ikutan berburu tiket untuk libur natal dan akhir tahun ini.
Tanggal 4 Desember saya menelepon ke stasiun Tugu untuk memastikan loketnya sudah buka belum. Setelah berulang kali memencet nomor 589685, akhirnya terdengar juga nada sambungnya dan teleponku pun dijawab. “Stasiun Tugu, selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?” Suara seorang wanita menyapaku. “Selamat pagi, mbak! Mau tanya, apakah tiket ke Jakarta untuk tanggal 4 Januari sudah bisa dibeli hari ini?” “Wah, belum bu! Loket pemesanan baru buka 30 hari sebelum hari keberangkatan. Bulan Desember ini sampai tanggal 31. Jadi untuk tanggal 4 Januari baru akan buka besok tanggal 5” Weleh, untung saya menelepon dulu, kalau tidak, sia-sia aku datang ke Stasiun Tugu. Sungguh tidak terpikir olehku sebelumnya bahwa tanggal 31 menentukan tanggal pemesanan tiket kereta api. Bayanganku, sebulan sebelumnya adalah pada tanggal yang sama. “Jadi baru buka besok? Jam berapa loket buka?” “Iya bu, jam 7 pagi loket sudah buka.” Akhirnya aku menunggu sehari lagi.
Tanggal 5 jam setengah tujuh pagi, aku sudah siap berangkat. Anakku, yang saat itu belum bangun, kutinggal bersama adikku dan seorang teman yang tinggal bersamaku. Dengan sepeda motor aku berangkat ke stasiun Tugu. Aku mampir sebentar membeli bensin dan mengambil uang di ATM. Jam tujuh kurang sepuluh aku sampai di parkir selatan stasiun Tugu. Antrean sudah tampak di depan ruang reservasi. Pintunya pun belum dibuka. Setelah memarkir motor, aku masuk antrean. Ada dua lajur antrean menuju pintu ruang reservasi. Di depanku kira-kira ada lima puluh orang yang sudah mengantre. Paling depan, tepat di depan pintu, ada seorang wanita usia tiga puluhan yang berdiri sambil mengobrol dengan beberapa orang di belakangnya. Mungkin dia sudah datang sebelum jam 6 pagi.
Jam 07.05 pintu ruang reservasi dibuka. Seorang berpakaian satpam biru putih membagikan nomor antrean. Aku mendapat nomor 52. Aku masuk dan mencari form untuk pemesanan tiket. Setelah menulis form itu, aku menunggu sambil berdiri karena tidak ada lagi kursi yang kosong. Di papan pengumuman tertempel daftar harga tiket kereta api selama bulan Desember. Kereta bisnis ke Jakarta untuk tanggal 4 Januari harganya Rp 130.000,- padahal harga normal Rp 110.000,- Setelah kuamati lebih dekat, harga termahal adalah Rp 150.000,- untuk tanggal 1 dan 2 Januari. Weleh-weleh.
Hampir setengah jam menunggu, baru ada kursi kosong di dekatku, dan aku pun duduk. Antrean baru nomor 32. Beberapa saat kemudian ibu yang duduk di sampingku berdiri dan berjalan menuju loket. Seorang wanita yang lebih muda dariku menggantikannya. “Dapat nomor berapa, mbak?” Sapanya. “Lima puluh dua.” Jawabku. “Datang jam berapa?” “Jam tujuh kurang sepuluh. Mbak nomor berapa?” Aku balik bertanya. “Delapan tiga. Lama nggak ya? Saya jam delapan masuk kerja nih.” Dia mulai menunjukkan kegelisahannya. “Kayaknya sih cepat, mau beli tiket kapan?” “ke Jakarta tanggal 4.” “Wah, sama! Kemungkin semua orang beli tiket untuk tanggal 4,” kataku. “Wah gitu ya? Saya masih dapat nggak ya? Nomor segini.” Dia makin gelisah. “Kemungkinan sih dapat. Kan nggak semua orang naik kereta yang sama.” Jawab saya. “Oh iya, ya!” Katanya sambil mengangguk. Tapi tampaknya hal itu tidak membuatnya tenang. Beberapa saat kemudian dia mengambil handphone-nya dan mulai menelepon. “Aku kayaknya telat nih! Jam segini aku baru nomor tiga puluhan. Nomorku delapan tiga. Nggak tau masih dapat nggak nanti!” Dia terus mengobrol dengan temannya di telepon. Sempat terpikir olehku untuk menawarkan membelikan tiketnya pas aku dapat giliran nanti, supaya dia nggak terlambat kerja. Ah, itu hanya niat baik, tapi tidak kulaksanakan. Salah dia juga sih, teleponnya belum selesai pas aku dapat giliran, aku kan sungkan memutus pembicaraan orang. He he he membela diri. Maafin saya ya, mbak!
Jam 07.35 aku keluar dari ruang reservasi. Kutelepon suamiku. “Tiket tanggal 4 sudah dapat pak!” “OK, thanks!” Ah, Lega juga.
Tiket ke Jogja sudah diperoleh suamiku ketika dia datang ke stasiun Pasarsenen yang awalnya berniat untuk membeli tiket pulang-pergi tanggal 5 dan 8 Desember. Begitu sampai di loket dia baru tahu bahwa tiket ke Jogja tanggal 5 dan ke Jakarta tanggal 8 sudah habis, untuk semua jenis kereta api eksekutif dan bisnis. Alhasil, daripada tidak dapat tiket juga untuk libur natal, akhirnya suamiku membeli tiket untuk tanggal 23 Desember. Padahal belum ada pengumuman dari kantor libur natal dimulai tanggal berapa. Pengumumannya baru ada tiga hari kemudian. Liburnya tanggal 20 Desember sampai 4 Januari. Jadi harus kembali lagi ke stasiun Pasarsenen untuk menukar tiket itu. Walaupun harus menombok enam ribu rupiah, akhirnya tinggal ke Jogja tanggal 19 Desember sudah ada di tangan. Eh, harga tiket kereta api bisnis naik tepat mulai tanggal 19, dari Rp 110.000,- jadi Rp 130.000,- weleh-weleh!
Kalau tiket ke surga harus antre juga nggak ya? Kapan harganya naik, kapan turunnya? Bisa dipesan berapa hari sebelumnya? 
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Kekuatan Kabar Baik

Roma 10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Anak saya yang berumur 2 tahun adalah penggemar film “Finding Nemo”.. Hampir setiap hari dia menonton film tersebut, dan biasanya meminta saya untuk menemaninya. Saya memperkenalkan film itu ketika dia berumur delapan bulan karena ingin memperkenalkan warna dan obyek bergerak kepadanya. Berhubung film kartun yang saya miliki cuma itu, akhirnya setiap hari kami memutarnya. Dan dia akhirnya ketagihan.
Film itu menceritakan usaha seekor ikan badut untuk menemukan kembali anaknya yang diambil oleh manusia. Nemo, adalah anak tunggal ayahnya, Marlin. Seluruh calon saudaranya dan ibunya mati diserang ikan hiu pemangsa. Nemo selamat, namun siripnya cacat. Dia dibesarkan oleh sang ayah dengan perlindungan yang ketat. Ayahnya berjanji akan menjaganya dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Ketika Nemo memasuki usia sekolah, dia begitu antusias. Sedangkan ayahnya begitu khawatir sehingga dia menyusul ketika dia tahu bahwa sekolah akan diadakan di Drop Off, tempat istri dan calon anak-anaknya mati. Nemo sangat tidak menyukai tindakan ayahnya ini. Dia bertekad membuktikan bahwa dia mampu dengan berenang mendekati sebuah perahu dan menyentuhnya. Namun malang nasibnya. Seorang penyelam berhasil menjaringnya dan dia dibawa pergi. Marlin panik. Dia berusaha mengejar perahu yang membawa Nemo pergi. Perjalanan inilah yang menjadi cerita dalam film ini.
Sesuatu yang menarik saya ketika saya mencermati film yang saya tonton berulang-ulang ini, yaitu kekuatan kabar baik. Marlin bercerita kepada sekumpulan anak penyu laut tentang perjalanannya dari karang tempat ia tinggal sampai di arus Australia Timur. Juga tujuannya untuk menemukan Nemo di Sidney. Cerita itu diteruskan dari mulut ke mulut, sedemikian secepatnya sehingga Nemo yang ada dalam akuarium di Sidney pun akhirnya mendengar.
Kabar tentang perjuangan ayahnya untuk menemukannya, mendorong Nemo untuk melakukan tindakan untuk membebaskan diri dari akuarium. Jika tidak membebaskan diri dia akan mati oleh Darla –gadis kecil pembunuh ikan. Berbagai cara dia coba. Sampai akhirnya dia menemukan jalan kembali ke laut dengan bantuan teman-temannya dan bertemu dengan ayahnya.
Kekuatan kabar baik bisa mendorong seseorang untuk bertindak. Kekuatan kabar baik mendorong Nemo untuk membebaskan dirinya dari ancaman maut. Kabar baik apa yang kita miliki? Apa respons kita? Saya jadi teringat dengan kabar baik yang saya miliki yaitu kabar baik tentang keselamatan yang sudah diberikan Yesus bagi hidup saya. Pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah saya mengabarkan kabar baik itu, sehingga orang lain bertindak untuk menerima keselamatan itu? Pernah ada, tapi sudah lama tidak.
Finding Nemo mengingatkan saya tentang hal itu. Terima kasih Lilo…

Hana -Old Version

Doa Dan Kasih Karunia

Padi itu saya disambut hangat oleh nyonya rumah di kediamannya yang cukup besar.
“Hallo, selamat pagi, silakan masuk!” katanya, “Maaf, masih agak berantakan,” lanjutnya sembari membersihkan beberapa barang di meja.
“Silakan duduk, maaf saya tinggal sebentar,” Beliau menghilang di balik tirai. Saya memandangi sekeliling ruangan. Walaupun tidak begitu rapi, namun ruangan ini terawat dengan baik. Lukisan pemandangan yang besar memenuhi salah satu dinding ruangan. Beberapa hiasan dinding dan aksesoris tertata dengan bagus di ruangan ini, meja dan kursi yang unik menambah keindahan. Beberapa mainan anak-anak dan alat tulis tersebar di lantai dan meja pendek di salah satu sudut ruangan.
“Apa kabar Mbak?” sapa beliau ketika kembali memasuki ruangan. “Baik,” sahut saya. Beliau membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh hangat. Ditaruhnya sebuah di depan saya dan sebuah lagi di depan beliau.
Kemudian masuk seorang anak perempuan kecil dengan membawa nampan berisi piring-piring snack. Ditaruhnya piring-piring itu di meja.
“Silakan dicicipi!” katanya kepada saya.
“Ayo, Kasih salam dulu dengan tante!” seru ibunya kepada anak itu. Anak kecil itu mengulurkan tangannya serta menyebutkan namanya. Setelah selesai kami berjabat tangan, ia berlari sambil tertawa-tawa masuk ke rumah.
“Itu anak saya yang bungsu, setelah sekian lama bergumul tentang mereka, anak-anak saya itu!”
“Oh ya, saya mendengar juga tentang hal itu dan saya mendengar kesaksian Ibu juga menjadi berkat bagi banyak orang, terutama kaum wanita. Nah, untuk itulah saya datang kemari. Saya ingin mendengar sendiri dari Ibu. Bagaimana perasaan Ibu waktu semuanya belum terjadi?”
“Maksudnya bagaimana Mbak?”
“Ya. Saat ibu belum memiliki putra?”
“Oh itu, sangat tidak enak. Rasanya seperti sakit yang berkepanjangan. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Benar, Mbak, sakit sekali. Suami saya kan mempunyai dua orang istri. Ah, Mbak jangan kaget. Di daerah ini, hal itu biasa. Udah jadi adat kali ya! Lain dengan di tempat Mbak ya? Nah, madu saya, istri suami saya yang lain ini selalu mengejek saya, dia waktu itu sudah mempunyai beberapa anak laki-laki dan perempuan dari suami saya. Saya jadi sedih sekali, sering waktu itu saya tidak bisa lagi mengendalikan emosi. Saya sering sekali menangis, tidak mau makan dan mudah marah dengan siapa saja, dengan suami saya, dengan pembantu saya, pokoknya dengan semua orang yang saya temui, bahkan kayaknya saya pernah marah dengan Tuhan waktu itu. Hih nekad ya?”
“Apakah setiap waktu Ibu selalu bertemu dengan madu Ibu itu?”
“Sebenarnya kami tinggal berdekatan, tetapi interaksi kami paling banyak waktu kami berjalan ke rumah Tuhan setahun sekali. Perjalanan itu panjangnya sampai beberapa hari. Nah, di situ pasti menjadi perjalanan yang sangat tidak menyenangkan. Kebanyakan waktu saya pasti habis untuk menangis. Suami saya pada waktu hari korban akan memberikan roti bagi istri keduanya satu bagian dan satu bagian juga pada masing-masing anak mereka, untuk saya, suami saya memberikan juga satu bagian. Hal itu juga jadi sumber ejekan yang membuat saya sakit hati.”
“Berapa lama hal itu terjadi? Dan kok bisa begitu sih Bu?”
“Bertahun-tahun, semenjak suami saya mempunyai istri kedua sampai saya mendapat jawaban dari Allah untuk pergumulan saya itu. Sebabnya saya sendiri tidak tahu. Mungkin karena suami saya lebih mengasihi saya dari pada istri keduanya, mungkin juga ada persaingan terselubung di antara kami untuk menonjolkan diri sehingga kami secara tidak sadar menjatuhkan satu sama lain. Ah, sebenarnya hal itu tak perlu terjadi. Eh, sampai lupa. Silakan diminum dan dimakan lho!” Percakapan kami berhenti sejenak, saya mengambil cangkir teh saya dan meneguknya. Saya melihat sang ibu termenung sejenak. Agaknya beliau mengingat kembali apa yang terjadi pada waktu itu.
“Tetapi hal itulah yang membuat saya mempunyai hubungan pribadi dengan Allah makin baik.” Lanjut ibu itu.
“Bisa Ibu ceritakan lebih jelas lagi?”
“Awalnya yang menjadi sumber kekuatan saya adalah cinta suami saya. Suami saya sangat menyayangi saya. Bahkan lebih dari kasihnya kepada istrinya yang ke dua. Tetapi kadang-kadang saya masih menangis karena sakit hati. Sampai suatu hari ada perkataan suami saya yang membuat saya mengerti bahwa ia tidak dapat benar-benar mengerti perasaan saya seperti yang saya kira sebelumnya. Itu membuat saya menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengerti dengan benar perasaan saya selain Allah.”
“Bagaimana pengalaman Ibu dengan Allah waktu itu?”
“Sebenarnya saya secara pribadi mengenal Allah lama sebelum saya menikah, suami saya juga orang uang taat dan takut akan Allah. Dia sangat menolong saya untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pergumulan ini membuat saya selalu mencurahkan isi hati saya pada Allah. Tangisan-tangisan saya tidak lagi saya curahkan pada suami saya atau orang lain, tetapi hanya pada Allah. Setiap kesempatan saya pergunakan untuk berdoa. Yah, itu komitmen saya waktu itu. sampai sekali waktu di Rumah Tuhan saya berdoa dan bernazar.”
“Apa nazar Ibu waktu itu?”
“Jika Allah mendengar doa saya dan memberi saya anak laki-laki maka saya akan serahkan dia kepada Tuhan untuk menjadi hambanya seumur hidupnya. Ha ha ha waktu itu imam yang ada di Rumah Tuhan mengira saya mabuk karena anggur dan mengusir saya. Waktu itu saya berdiri dan berdoa dengan mulut komat-kamit. Mungkin kayak orang mabuk ya Mbak? Tetapi setelah saya jelaskan mengapa saya berlaku demikian, beliau malah mengucapkan kata-kata yang menguatkan saya ‘Pergilah dengan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta padanya.’ Yah, kata itu menguatkan saya. Setelah itu saya yakin doa saya terjawab. Saya mulai mau makan dan saya rasa wajah saya pasti tampak gembira waktu itu.”
“Bagaimana Ibu bisa seyakin itu?”
“Sebenarnya ada beberapa hal yang menguatkan saya sebelumnya. Kata-kata imam itu adalah yang terakhir menguatkan saya karena membuat hati saya damai sejahtera. Sebelumnya ada beberapa bagian firman Tuhan yang menguatkan saya. Tuhan berjanji akan menolong saya dengan menjadi tanduk kekuatan saya. Kekudusan-Nya, kemahatahuan-Nya, dan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu akan membuat hal yang mustahil akan terjadi. Itulah yang Tuhan katakan sebelumnya dan itulah yang terjadi.”
“Apa yang terjadi setelah itu?”
“Setahun kemudian saya melahirkan anak laki-laki. Namanya Samuel, karena saya telah memintanya dari Tuhan. Setelah disapih, anak itu saya serahkan kepada Imam Eli, yang dulu menegur saya, untuk dibimbing menjadi hamba Tuhan di Rumah Tuhan. Saya juga membawa persembahan bagi Allah. Sekarang dia ada di Rumah Tuhan dan tiap tahun saya dan suami saya menjenguk dia. Saya pasti membawakan baju baru untuknya.”
“Lalu putra Ibu yang berikutnya?”
“Oh ya, ada tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan termasuk yang bungsu tadi. Semua sehat dan menyenangkan hati saya, sehingga membuat saya makin mengucap syukur kepada Allah.”
“Lalu, hubungan Ibu dengan madu ibu itu?”
“Ha ha ha Penina namanya. Saya sudah menyelesaikan hal ini dengan dia. Saya mengampuni dia dan dia mengampuni saya. Sekarang kami makin sering bertemu, dan dia menjadi sahabat saya yang paling dekat, bahkan bisa dikatakan sebagai saudara saya.”
“Wah, luar biasa yang terjadi ya Bu!”.
“Ya, memang bersama dengan Allah hal-hal yang besar pasti terjadi.”
“Amin.” “Oh ya Bu! Kalau ibu dimintai saran oleh wanita yang mengalami hal yang sama atau mirip dengan yang ibu alami, apa saran ibu?”
“Segera selesaikan dengan Allah sakit hati yang ada. Curahkan isi hati kepada Allah. Jangan sampai berlarut-larut seperti saya. Itu akan merugikan diri kita sendiri dan pasti juga orang lain.”
“Maksud ibu?”
“Ya, kalu kita sedang sedih atau sakit hati pasti wajah kita, perkataan kita, mungkin juga tingkah laku kita secara tidak sengaja akan menunjukkan hal itu. Mungkin ada orang yang bisa mengontrolnya, tetapi itu sangat jarang. Apalagi bagi orang-orang yang dekat dengan kita, hampir tidak mungkin bisa kita tup-tutpi. Nah, orang yang bertemu dengan kita pasti dapat merasakannya. Itukan tidak adil? Soalnya orang yang bertemu dengan kita kan seharusnya mendapat berkat, kok malah disuguhi muka masam? Ya kan Mbak?”
“Iya juga ya Bu?”
“Ya, dengan doa dan hubungan yang dekat dengan Allah, kondisi yang tidak memungkinkan akan berubah menjadi berkat dan kasih karunia. Pokoknya Everything is Possible with God deh!”
Kami melanjutkan perbincangan dengan beberapa topik yang lain. Dan itulah sebagian dari percakapan saya dengan Ibu Hana, istri dari Bapak Elkana, seorang Efraim. Mereka tinggal di Ramataim-Zofim di Pegunungan Efraim. Beliau adalah ibu dari seorang nabi besar, Samuel. Kisahnya dapat juga dibaca di kitab I Samuel 1:1 – I Samuel 2:26.

Pernah terbit di Vision Edisi 39/IV September 2001

« Older entries Newer entries »