Resensi Buku “Lost In Translation”

Bagaimana Laki-laki dan Perempuan Bisa Saling Memahami

Pengarang: Dr Steve Stephens
Tebal Buku: 236 Halaman
Terbitan: Gloria Graffa, Yogyakarta
Tahun Terbit: Januari 2009
Penerjemah: Herman Kosasih
Penyunting: C. Krismariana W

Laki-laki dan perempuan berbeda, itu ide utama yang ditonjolkan buku ini dalam 38 babnya. Khususnya dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan berbeda dalam berbagai bidang, pola pikir, cara menyelesaikan masalah, nilai-nilai utama dalam hubungan, cara penyampaian ide dan keinginan, dan lain-lain. Perbedaan-perbedaan ini dipaparkan dengan ilustrasi yang tepat sehingga dengan tepat pula pembaca dalam mengidentifikasi masalah yang sedang dibahas.

Setiap akhir bab buku ini memberikan solusi bagi perbedaan ini yang kadang cukup ekstrim, suatu perubahan besar, tetapi lebih sering membiarkan perbedaan itu dan hanya mencoba memahaminya. Bimbingan terjemahan dan pertanyaan-pertanyaan di akhir bab menolong pembaca untuk melakukan introspeksi komunikasi pernikahan mereka secara mandiri.

Pengalaman Dr. Steven Stephens sebagai konselor pernikahan maupun pengalaman beliau dalam pernikahan yang dibagikan dalam buku ini menolong pembaca untuk memahami bahasan tiap babnya. Pembaca juga dapat diyakinkan bahwa dia tidak sendirian mengalami masalah komunikasi dalam pernikahan, tetapi banyak orang, bahkan pasangan konselor pernikahan pun mengalaminya.

Buku ini cocok dibaca oleh pasangan yang sudah melewati bulan madu mereka. Karena biasanya perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan baru mulai muncul ketika pernikahan sudah memasuki masa pasca bulan madu sampai sekitar lima tahun berikutnya. Sesudah itu pasangan biasanya sudah menemukan bentuk komunikasi yang pas, sehingga tidak memerlukan lagi buku seperti ini.

Buku yang menyoroti tentang komunikasi gender pasangan seperti ini sangat mudah ditemukan. Biasanya buku seperti ini ditulis oleh konselor, pendeta, atau psikolog. Daftar pertanyaan yang ada di akhir bab memang membuat buku ini berbeda dengan yang lain, namun demikian tidak mampu membuat ini istimewa mengingat pembaca tidak selalu setuju jika dikatakan pola komunikasi pernikahan mereka bermasalah.

Janji Tuhanku

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri dan berlakulah setia,
dan bergembiralah karena TUHAN;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya,
dan Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia;
jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya,
karena orang yang melakukan tipu daya.
Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu,
jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan,
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.”
(Mazmur 37:3-9)

“Tetapi percayakanlah dirimu kepada TUHAN!
Bersikaplah baik dan murah hati terhadap orang lain,
maka engkau akan hidup makmur, aman, dan tentram di negeri ini!
Bersukacitalah karena TUHAN,
maka Ia akan memenuhi segala keinginan hatimu!
Apa pun yang kaulakukan, serahkanlah semua itu kepada TUHAN.
Percayalah bahwa Ia akan menolong engkau untuk melaksanakannya dan Ia pasti akan menolongmu.
Semua orang akan tahu bahwa engkau tidak bersalah.
TUHAN akan menyatakan kebenaranmu dengan adil sehingga kebenaranmu itu bersinar seperti matahari pada tengah hari.
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan bersabarlah menantikan Dia!
Jangan iri hati terhadap orang-orang jahat yang hidup makmur!
Jangan marah!
Jangan bersungut-sungut dan merasa kuatir—semua itu hanya membawa celaka.
Karena orang-orang jahat akan dibinasakan, tetapi orang-orang yang mempercayakan diri kepada TUHAN akan dilimpahi berkat.”
(Mazmur 37:3-9 FAYH)

“Percayalah kepada TUHAN, dan lakukanlah yang baik,
diamlah di negeri itu dan berlakulah setia.
Carilah kebahagiaanmu pada TUHAN, Ia akan memuaskan keinginan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN, berharaplah kepada-Nya, Ia akan menolongmu.
Ia akan menyatakan kesetiaanmu seperti terang, dan ketulusanmu seperti siang.
Nantikanlah TUHAN dengan hati yang tenang, tunggulah dengan sabar sampai Ia bertindak.
Jangan gelisah karena orang yang berhasil hidupnya, atau yang melakukan tipu muslihat.
Jangan marah dan panas hati, itu hanya membawa celaka.
Sebab orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi yang berharap kepada TUHAN akan mewarisi tanah itu.”
(Mazmur 37:3-9 BIS)

“Get insurance with GOD and do a good deed, settle down and stick to your last.
Keep company with GOD, get in on the best.
Open up before GOD, keep nothing back; he’ll do whatever needs to be done:
He’ll validate your life in the clear light of day and stamp you with approval at high noon.
Quiet down before GOD, be prayerful before him. Don’t bother with those who climb the ladder, who elbow their way to the top.
Bridle your anger, trash your wrath, cool your pipes—it only makes things worse. Before long the crooks will be bankrupt; GOD-investors will soon own the store.” (Psalms 37:3-9 Message)

“Trust in the LORD, and do good;
Dwell in the land, and feed on His faithfulness.
Delight yourself also in the LORD,
And He shall give you the desires of your heart.
Commit your way to the LORD, Trust also in Him,
And He shall bring it to pass.
He shall bring forth your righteousness as the light,
And your justice as the noonday.
Rest in the LORD, and wait patiently for Him;
Do not fret because of him who prospers in his way,
Because of the man who brings wicked schemes to pass.
Cease from anger, and forsake wrath; Do not fret––it only causes harm.
For evildoers shall be cut off; But those who wait on the LORD,
They shall inherit the earth.”
(Psalms 37:3-9 NKJV)

JOGJA, 6 April 2009

Hana

Akhirnya kereta kuda yang kunaiki berhenti di depan sebuah rumah atau lebih tepatnya sebuah tenda besar.
“Di sini mbak, rumahnya!”
“Iya pak, tunggu saya ya pak!”
“Iya mbak, saya parkir di tempat itu ya mbak!”
“Iya pak.”
Saya turun dari kereta. Saya melihat dua tenda rumah yang besar. Halamannya luas. Di sekitarnya terdapat tenda-tenda kecil. Saya masuk halaman dan melihat ada seorang ibu yang sedang membersihkan beberapa karpet.
“Assalamualaikum!”
“Wallaikumsalam!”
Ibu itu tersenyum, “Mencari siapa bu?”
“Apakah benar in kediaman keluarga Elkana?”
“Iya, benar bu! Mari silakan masuk!”
“Terima kasih. Apakah Ibu Hana ada?”
“Ada. Silakan masuk dan duduk dulu. Akan saya panggilkan beliau!”
“Ya, terima kasih bu!”
Saya memasuki tenda sebelah kanan dan dipersilakan duduk di atas karpet yang terdapat beberapa bantal besar. Ruangan depan tenda ini tidak terlalu luas, sekitar 2 x 3 m. Dalam ruangan ini tidak banyak terdapat perkakas. Hanya karpet tebal, beberapa bantal, dan sebuah meja pendek kecil. Di salah satu pojok ruangan tersebar beberapa mainan. Di pojok yang lain ada tirai panjang yang menghubungkan ruangan depan dengan ruangan di belakangnya. Saya merasa nyaman duduk di karpet tersebut sambil mengamati sekitar saya. Cuaca juga cukup nyaman, sebuah jendela besar membuat angin sepoi masuk ke ruangan ini. Hampir membuat saya mengantuk.
Beberapa saat kemudian, tirai pemisah ruangan bergerak, dan seorang wanita setengah baya yang masih terlihat jelas kecantikannya masuk. Wanita tersebut tersenyum dan menyapa saya dan menjabat tangan saya, ”Wah, selamat siang mbak, Maaf agak lama ya, nunggunya, saya baru selesai mandi. Gimana perjalanan tadi mbak? Lancar?”
“Puji Tuhan, lancar. Bagaimana kabar ibu sendiri?”
“Puji Tuhan, baik. Saya dan anak-anak semua sehat. Oh ya maaf nama Mbak siapa?”
“Nama saya Dwi bu, saya dari Majalah Syalloom, minggu lalu saya mengirim pesan singkat untuk wawancara hari ini. Dan ibu membalas dengan menyatakan siap diwawancarai hari ini. Benar demikian bu?”
“Benar, benar! Hanya saya agak lupa dengan nama Mbak. Kalo janjian hari ini saya ingat. Saya sudah tulis besar-besar dan saya tempel di pintu kamar saya. Biasanya saya juga suka lupa.”
“Bisa kita mulai sekarang bu?”
“Silakan!”
Sebelum saya memulai pertanyaan pertama, seorang anak perempuan kira-kira usia 10 tahun masuk ruangan. Wajahnya cantik dan sangat mirip dengan ibu Hana. Dia membawa nampan dengan dua gelas minuman dan sebuah piring berisi roti gandum.
“Silakan!” katanya ketika menaruh nampannya di karpet tempat kami duduk.
“Terima kasih, Keshya!” Jawab Ibu Hana. “Ini anak saya yang kedua, mbak. Keshya namanya. Ke, beri salam buat tamu kita!” Keshya duduk dan membungkuk memberi hormat pada saya. “Keshya, kamu cantik sekali seperti ibumu!” Kata saya sambil membelai rambutnya yang terurai panjang. Keshya tersenyum dan kemudian dia membalikkan badan dan masuk ke dalam.
“Ayo mbak, diminum dulu, pasti haus!” kata ibu Hana sambil mengambil gelas dan memberikan pada saya.
“Terima kasih, bu!” Saya pun meneguk minuman tersebut, agak asing rasanya, namun menyegarkan.
“Ini minuman khas daerah sini! Campuran perasan beberapa buah dan disimpan dalam keadaan tertutup beberapa hari. Menyegarkan kan?” Saya pun mengangguk mengiyakan.
“Silakan mbak dilanjutkan!”
“Sebagai permulaan silakan ibu ceritakan keluarga ibu sekarang!”
“ehm… Sejak Samuel saya serahkan pada Imam Eli 12 tahun yang lalu, saya punya tiga orang anak. Adik Samuel, Keshya 10 tahun yang tadi mengantar minuman. Adiknya lagi Yotham 7 tahun dan yang terakhir Itamar 5 tahun. Bapak Elkana masih tetap dengan pekerjaannya sehari-hari, mengelola kebun dan ternak.”
“Bagaimana dengan Ibu Penina?”
“Oh ya… beliau tinggal di tenda sebelah. Sebelum masuk ke sini tadi pasti mbak melihatnya. Beliau tinggal dengan 4 anaknya yang muda 2 pria 2 wanita. Sedangkan 6 anaknya yang lebih tua sudah berumah tangga dan tinggal tidak jauh dari sini.”
“Ehm.. maaf! Bagaimana hubungan ibu dengan beliau.”
“Baik. Sangat baik malah. Kami bersama-sama mengurus rumah tangga ini. Selain anak-anak, ada beberapa pelayan dan budak yang tinggal di sini. Kami harus atur semuanya. Beliau sangat terampil mengatur rumah. Kami banyak bertukar pikiran tentang anak, rumah tangga, dan bahkan kehidupan kami sebagai wanita. Bagi saya sekarang, dia adalah saudara dan sahabat, tempat saya bercerita, mengadu dan meminta nasihat.”
“Sekali lagi maaf bu! Setahu saya dulu ibu sempat lama berkonflik dengan ibu Penina?”
“Oh.. Iya… tapi itu dulu. Dulu banget, waktu saya masih muda! He.. he.. he… Waktu Samuel belum lahir. Ibu Penina sering menyindir bahwa saya mandul, dikutuk Tuhan, tidak membawa berkat bagi bapak Elkana.”
“Itu berlangsung berapa lama?”
“Wah saya sendiri tidak ingat. Bertahun-tahun rasanya. Mungkin hampir sepuluh tahun. Bapak Elkana setiap tahun selalu mengajak kami sekeluarga ke Bait Allah di Silo untuk membawa persembahan keluarga kami dan berdoa di sana. Saat-saat itulah yang paling membuat saya sengsara. Mungkin mbak bisa membayangkan perasaan saya. Saya adalah wanita yang bertahun-tahun menikah tetapi belum mempunyai anak, sedangkan istri kedua suami saya sudah memiliki 5 anak, ditambah lagi suka menyindir saya. Biasanya sebelum berangkat ke Bait Allah, Bapak Elkana menyiapkan persembahan. Satu bagian khusus untuk beliau, satu bagian untuk saya, tetapi untuk Ibu Penina enam kali bagian saya, untuk beliau dan anak-anak. Saat itu rasanya saya adalah orang yang paling sengsara di dunia ini. He.. he… Sampai-sampai saya tidak mau makan beberapa hari dan menangis terus menerus.”
“Kalau tanggapan Bapak Elkana seperti apa?”
“ Mungkin karena beliau seorang pria, jadi sulit memahami apa yang saya rasakan. Atau saya yang terlalu sensitif saat itu, saya tidak tahu. Berulang kali beliau menyatakan bahwa saya lebih berharga dari sepuluh anak laki-laki bagi beliau. Beliau mengatakan itu untuk menghibur saya supaya saya berhenti menangis dan mau makan. Tapi bayangan saya saat itu tentang yang beliau katakan menunjukkan bahwa beliau sudah cukup memiliki anak laki-laki dan tidak lagi mau mengusahakan ada bayi dalam kandungan saya. Semakin beliau mencoba menghibur saya, semakin saya merasa sendirian dan tidak dipahami. Yah.. emosi wanita muda, kadang tidak stabil.”
“Lalu bagaimana ibu bisa sampai mengandung Samuel?”
“Berkat doa. Yang saya yakini saat itu hanya Allah yang bisa memahami saya, dan saya perlu mujizat dari Allah. Waktu di Bait Allah saya terus berdoa. Ketika yang lain sedang makan dan minum, saya masih berdoa, sambil menangis. Sampai-sampai Imam Eli mengira saya mabuk anggur. Bayangkan aja mbak, berhari-hari nggak makan, berjalan jauh, menangis terus, pasti wajah saya pucat dan kusut. Dan lagi mulut saya komat kamit berdoa. Orang yang tidak mengenal saya pasti berpikir seperti yang dipikirkan Imam Eli.”
“Lalu?”
“Waktu Imam Eli menegur saya, saya jawab saya tidak mabuk, tetapi saya berdoa. Sebenarnya saya tidak menceritakan dengan detil maslah saya kepada Imam Eli, saya hanya mengatakan bahwa saya sangat sedih dan merasa sengsara sehingga saya lama mencurahkan isi hati pada Allah sambil menangis dan tidak bersuara. Tetapi jawaban Imam Eli sangat menguatkan saya dan saya anggap itu adalah jawaban dari Allah. Beliau menyuruh saya pergi, dan memberkati saya ‘Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta dari-Nya’ lalu saya beranjak dan mau makan.”
“Sebenarnya apa yang ibu doakan?”
“Meminta seorang anak laki-laki dari Allah. Saya berdoa supaya Allah memperhatikan kesengsaraan saya, mengingat dan tidak melupakan saya di hadapan-Nya. Dan nazar… ya… saat itu saya bernazar juga, kalau doa saya dijawab, saya akan memberikan anak laki-laki saya kepada Allah seumur hidupnya dan rambut kepalanya tidak akan pernah dicukur.”
“Lalu doa itu dijawab?”
“Ya. Tahun itu juga Samuel lahir, dan tahun berikutnya saya bayar nazar saya. Samuel saya serahkan pada Tuhan dan saya titipkan pada Imam Eli di Silo.”
“Mengapa Ibu bernazar seperti itu? Bukankah anak laki-laki yang ibu inginkan?”
“Saya berdoa juga untuk anak selanjutnya. Allah sanggup memberikan anak laki-laki kepada saya, pasti Dia juga sanggup memberikan saya anak lagi. Tuhan itu maha tahu, orang mandul melahirkan tujuh anak. Dan itulah saya!” Jawab Ibu Hana sambil tersenyum.
“Lalu bagaimana hubungan ibu dengan ibu Penina dipulihkan.”
“Tuhanlah yang maha kuasa. Setelah doa saya dijawab, hati saya sudah dihiburkan, semuanya hanyalah masa lalu. Ibu Penina juga minta maaf, dan saya memaafkan. Ibu Penina berubah, saya lebih lagi. Dan bukankah berkat sindiran Ibu Peninalah saya jadi berdoa dan semuanya terjadi. Yang terpenting semua orang sekarang bisa memuliakan Tuhan.”
“Apa harapan ibu bagi Samuel?”
“Saya sudah menyerahkan Samuel pada Tuhan. Saya percaya Tuhan sudah menyiapkan sesuatu bagi Samuel. Biarlah Samuel hidup menuruti apa yang sudah ditetapkan Tuhan baginya. Itu saja!”
“Terima kasih bu! Semoga apa yang disharingkan ibu menjadi berkat bagi pembaca majalah syaloom. Tuhan memberkati Ibu dan keluarga”
“sama-sama mbak. Tuhan memberkati mbak juga! Ayo silakan dimakan rotinya dan minum lagi”
“Iya bu, terima kasih!”
Saya pun mengambil sepotong roti dan memakannya. Ketika saya melihat ke halaman, terlihat Keshya bermain-main di halaman bersama 4 anak yang lain. Dari wajah mereka saya dapat memastikan bahwa 2 orang adalah adik Keshya, Yotham dan Itamar, dan 2 yang lain adalah anak ibu Penina.

Cerita Tentang Anakku

Namanya Lilo. Miktam Lilo Radityo nama lengkapnya. Miktam artinya mazmur, pujian bagi Allah. Lilo dari serapan bahasa jawa Lelo yang artinya rela hati. Kami mengenal Allah yang rela hati ketika dia lahir 20 Bulan yang lalu. Radityo berarti Matahari. Itu impian kami untuk dia, supaya jadi matahari bagi orang-orang di sekelilingnya, termasuk kami orang tuanya.
Sekarang Lilo belajar menyebut nama lengkap orang tuanya. sudah berhasil untuk bapaknya, tapi belum berhasil untuk saya, ibunya. Mulai banyaka kata-kata yang menjadi ekspresinya. Dia sedang belajar berdoa. Sebelum makan dan sebelum tidur. Dia mulai dengan menyebut nama Tuhan Yesus dan diakhir dengan kata aa – minnn. Selebihnya mengangguk-angguk mengikuti kata-kata saya.
Dia senang menonton film Finding Nemo dan Teletubbies, dia belajar menirukannya dan memahami hal-hal baru. Curios Goerge adalah serial TV yang diminatinya. Dia gemar membolak balik buku dengan gambar-gambar menarik. Yang paling ia minati adalah gambar binatang dan kendaraan, karena dia bisa menirukan suaranya. Sebenarnya hal yang awal ingin saya ajarkan kepadanya adalah membaca, namun sayang saya belum memahami metode membaca balita dan nggak punya kartu baca juga… he.. he.. he