Pilih Yang Mana?

Posisi komputer dan TV kami berdekatan. Lilo kerap menyalakan TV dengan acara favoritnya tetapi malah main game di komputer. Bapaknya pasti mengingatkan “Lilo, kamu pilih main game atau nonton TV?” Kalau Lilo milih game, bapaknya akan pindahkan saluran TV ke berita. Kalau Lilo pilih nonton, bapaknya akan memakai komputer.
Suatu pagi, sambil mencuci baju, bapak Lilo menyalakan laptop untuk mendengarkan lagu-lagu yang baru di-download. Sekonyong-konyong Lilo datang dan bertanya, “Bapak pilih laptop atau mencuci?” Sambil tertawa bapaknya menjawab, “mencuci Lo,” Dan laptop pun diambil alih oleh Lilo. ;))

Keong Mas

Nama ini pertama kudengar ketika aku baca Bobo pas SD. Waktu itu pernah ke Taman Mini tapi nggak sempat ke Keong Mas. Besok pertama kalinya aku akan ke sana mengantar anakku semata wayang pergi bersama teman-teman TKnya. Uh semoga menyenangkan. Seindah yang kubayangkan waktu SD dulu. Wish me luck!

Lama Gak Update

Posting terakhirku 2 Juni 2011. Semoga sekarang jadi rajin. ;-))

Lightning McQueen

Setelah menonton berkali-kali di TV, akhirnya Lilo punya VCD Cars. VCD-nya dibeli waktu jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia MOI dengan harga fantastis, Rp 19.000,- saja. Untunglah pas pengen pas diskon! Hehehe

Sekarang Lilo mulai memutarnya terus menerus sambil menghafalkan beberapa adegan dan percakapannya. Sekalipun sudah diputar 5 kali, Lilo tetap tertawa waktu Lightning melet sewaktu mencapai garis finish. Juga sewaktu Guhdo dan Luigi pingsan ketika bertemu dengan Ferrari. Lilo beberapa googling untuk menemukan permainan tentang Cars. Dan memainkannya sambil berkhayal.

Yang saya amati pada Lilo ketika dia mengeksplorasi film ini adalah, Lilo belajar tentang makna kata sombong. Sebelumnya dia hanya tahu bahwa sombong itu negatif, jelek, nakal. Sekali waktu, saya melarang Lilo dan teman-temannya masuk ke kamar karena kamar kami baru saja dibersihkan dan Lilo sedang makan es krim waktu itu. Beberapa saat setelah itu Lilo bercerita, “Ibu tadi dikatain sombong ama teman-teman karena kita nggak boleh masuk kamar.” “Terus jawab Lilo apa?” tanya saya. “Ya, enggak lah! Ibu kan nggak sombong! Kan cuma biar nggak kotor lagi.” ;-p

Yupiter


Lilo: Bu, Ibu sayang nggak sama Bumi?
Ibu: Ya, kadang-kadang.
Lilo: Jangan kadang-kadang dong Bu. Ibu harus sayang sama bumi, kalau nggak nanti meledak lho Buminya.
Ibu: Wah, kalau meledak kita tinggal di mana dong?
Lilo: mmm, oh, aku tahu! Tinggal di planet lain aja!
Ibu: Planet kan banyak?
Lilo: Di Yupiter saja!
Ibu: Kenapa di Yupiter?
Lilo: Yupiter kan dingin. Pasti ada AC-nya.
Ibu: Yupiter kan gedhe sekali Lo!
Lilo: Iya, biar muat banyak orang. Tapi jangan pindah ke Pluto lho Bu! Soalnya cuma muat satu orang.
Ibu: OK deh!

Jakarta, Mei 2011

Lilo And Stitch

Kalau Lilo ditanya namanya, Lilo. Orang-orang sering melanjutkan, “Stitch mana?” “Kayak Kartun dong!” Padahal Lilo kan yang pandai main gitar. Hehehe Yang jelas, bedanya Lilo dan Lilo kartun jelas. Lilo cowok, laki-laki. Lilo kartun cewek alias perempuan. ;-P

PR Angka Dua

Sore ini Lilo bangun dari tidur siangnya agak kesorean. Seperti biasanya dia malas kalau di suruh mandi.
“Lilo, mandi!” Kataku.
“Nggak mau ah!”
“Ayo mandi, habis mandi nanti ngerjain PR! Lilo dapat PR dari bu guru kan?”
“Iya!”
“Apa PR-nya hayo?”
“Buat angka dua!” Wah, rupanya dia ingat PR dari ibu gurunya.
“Nanti mau diajari sama bapak atau sama ibu?”
“Sama ibu aja!”
“Kenapa nggak sama bapak?”
“Nanti bapak nggak bisa buat angka dua!”
Mentang-mentang belum pernah ditungguin bapaknya waktu sekolah, dia merasa bapaknya nggak bisa buat angka dua. Hehehe.
“Ya bisa lah, Lo! Bapakmu kan pinter!”

Lilo di Usia Tiga

“Nggak mau! Nggak mau dicium! Jangan! Bapak bau kecut!” Begitulah yang dikatakan anakku, Lilo ketika bapaknya mau memeluk atau menciumnya. Hari ini dia genap berusia tiga tahun. Dia sudah mulai konsisten ketika sudah memutuskan sesuatu. Tidak mau dicium dan dipeluk bapaknya itu terus dia pertahankan, dan dia akan marah jika bapaknya memaksanya.

Lilo bergabung dengan PAUD bulan lalu. Di sana, dia mulai memiliki beberapa sahabat. Azka dan Nindy, dua di antaranya. Lilo tidak selalu harus duduk dengan mereka, tetapi bila mereka datang, pasti dia sambut dan perhatikan. Dengan beberapa teman, terutama perempuan, dia menghindar. “Lilo takut, nanti dicubit,” katanya.

Melvin adalah sahabatnya di rumah. Mereka sering sekali bertengkar, tapi akan saling mencari jika salah satu dari mereka tidak ada. “Tapi, kata Bang Evin, nggak pa pa kok Bu!” Sering dia katakan ketika saya mencoba melarangnya melakukan sesuatu.

Dua hari yang lalu, ada tetangga kost kami yang pindah kamar. Beliau mengosongkan almarinya, kemudian diletakkan di depan kamar. Ketika sore menjelang, seluruh penghuni kost masih melakukan aktivitas masing-masing, tiba-tiba terdengar suara “gubrak!” “Aww!” “Evin!” “Lilo!” Beberapa ibu berteriak bersama. Saya yang saat itu selesai mandi dan masih di dalam kamar, langsung lari mencari mereka. Kedua anak itu ada di bawah almari yang rubuh ke depan. Lilo menangis keras ketika almari itu diangkat, sedangkan Evin masih diam, bingung ketika ibu dan ayahnya mengangkatnya. Gusi depan berdarah dan benjolan cukup besar di dahi, saya dapati ketika memeriksa keadaan Lilo di kamar. Evin memperoleh goresan luka yang panjang di punggungnya. Uhhff, untunglah almari kayu itu agak enteng, jadi mereka tidak memperoleh luka yang mengkhawatirkan. Namun, lingkaran biru agak benjol, pastilah akan tampak di dahi Lilo ketika dia berfoto ulang tahun yang ketiga ini. Ah, benar-benar anak laki-laki!

Ah, tiga tahun tak terasa berlalu sudah. Suka, duka, bangga, bingung, gagal, dan berhasil datang silih berganti ketika kami mendidik dan mengasuh Lilo sampai saat ini. Harapan dan angan-angan ada di benak kami, rasanya masih jauh menggapainya. Namun yang pasti, hidup kami jadi lebih berwarna tiga tahun ini. Kami berharap akan terus bertahan sampai usia kami usai.

Selamat ulang tahun, Lilo! Kami berharap kami terus mengenal Allah yang rela hati yang telah mempercayakan kamu kepada kami, oleh karena itu kami menamaimu LILO. Dan biarlah kami juga terus memuji-muji Tuhan oleh karena kamu, ketika kami mengingatmu dan memberimu nama depan MIKTAM. Dan bagimu sendiri, berusahalah untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain karena kamu sudah diberkati oleh Allah. Maka, RADITYO nama belakangmu yang berarti matahari supaya kamu mengingatnya. Tuhan Yesus memberkatimu!

Cerita terakhir:
Di suatu siang yang gerimis, kami hendak pergi ke toko untuk membeli sesuatu. Lilo bersikeras untuk tetap berangkat dan memegang payung sendiri.
“Ah, Lilo sendiri aja, Bu!”
“Lho, kan payungnya cuma satu. Kalo Lilo yang pegang, Ibu nggak bisa ikut. Ibu kehujanan dong!”
“Ibu hujan-hujan aja!”
“Yah, nanti Ibu sakit dong! Kalo Ibu sakit gimana? Siapa yang ngrawat?”
“Nanti ibu berobat ke dokter dan Lilo yang rawat Ibu.” Untunglah hujannya belum lebat ketika angkot datang.
Sore harinya, ketika saya tiduran di kasur, Lilo menghampiri saya, “Lilo mau rawat ibu.” Dia mengambil selembar tisu, kemudian mengusap-usapkannya ke wajah saya. “Sudah, Bu! Cepat sembuh ya, Bu!” Wkwkwkwkwk.

Ketika Lilo Mulai Berdoa

Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Barangsiapa tidak menyambut kerajaan surga seperti anak kecil, dia tidak layak masuk surga.” Awalnya saya memahami arti pernyataan itu bahwa saya harus polos tanpa memikirkan hal yang lain. Namun dalam setahun ini pemahaman pernyataan tersebut dipertajam oleh Allah, bahkan dimulai ketika saya memiliki anak.

Ketika saya dan suami mulai mengajarkan kepada anak saya untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, dia sangat percaya bahwa apa pun permintaannya Tuhan Yesus akan mengabulkan. Saat itu usianya belum genap 2 tahun. Pernyataan-pernyataan imannya yang sederhana kadang membuat saya terharu dan sadar bahwa seharusnya saya pun beriman seperti yang dia lakukan.

Anak saya begitu mudah percaya bahwa Tuhan Yesus segera menyembuhkan sakitnya begitu selesai dia berdoa. Hal ini sangat menolong kami ketika dia menangis karena jatuh atau terluka. Sambil memegang bagian yang sakit saya ajak dia berdoa, “Tuhan Yesus, tolong sembuhkan kaki Lilo! Terima kasih! Amin!” Setelah itu, dia akan berhenti menangis dan kalau ditanya, “Sudah sembuh?” Dia akan mengangguk dan bilang “Sudah disembuhkan Tuhan Yesus!”

Suatu kali pernah anak saya mengalami muntaber yang cukup parah. Setiap kali makan akan dimuntahkan lagi dan diare yang berulang-ulang dalam sehari. Dokter memeriksanya tiap hari selama tiga hari. Dua kali obat ditambahi untuk memulihkan kondisinya. Saya sangat khawatir karena dia nampak lemas dan selalu minta digendong. Asupan makanan dan minumannya pun sangat sedikit. Saya ajak dia berdoa. Saya sendiri masih sangat khawatir sehingga terpikir oleh saya untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Ketika saya menawarkan hal itu padanya, dia berkata, ”Lilo sembuh kok Bu, disembuhkan Tuhan Yesus.” Ah, andaikan imanku sesederhana itu. Dan memang dia tidak jadi dirawat di rumah sakit karena kondisinya membaik.

Beberapa bulan yang lalu saya dan anak saya belum tinggal sekota dengan suami saya, sehingga suami saya harus pulang ke rumah tiap dua minggu sekali. Gaji yang pas-pasan membuat kami mengharap pertolongan Allah lebih atas keuangan kami, terutama pada akhir bulan. Saya mulai mengajak anak saya berdoa untuk hal itu, “Tuhan Yesus, tolong kami, supaya bapak memiliki cukup duit untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke Jogja. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin!” Respon iman dia untuk hal ini pun kadang membuat saya terenyuh. Pernah suatu saat, ketika kami sedang mendoakan uang tiket tersebut, dia bermain dan menemukan beberapa lembar ribuan di dompet saya, dia lari dan berteriak, “Bu, ini ada duit buat beli tiket bapak!” Oh! Setelah itu jika dia mendapati saya sedang murung, dia akan berkata, “Ibu nggak punya duit ya? Yuk berdoa pada Tuhan Yesus!” Dan syukur pada Allah, suami saya melalui berbagai macam cara selalu bisa pulang pada waktunya.

Kemudian anak saya mulai mengerti bahwa dia bisa mendoakan orang-orang yang dia kenal dan benda-benda di sekelilingnya. Pernah suatu kali kami meminjam kamera digital milik adik saya. Suami saya membiarkan dia bermain dengan kamera itu sehingga dia bisa melihat hasil bidikannya sendiri. Ketika kamera itu sudah dikembalikan, dia kembali ingat dan minta bermain kembali, “Pak, Lilo mau foto-foto!” “Lho, kameranya kan sudah dikembalikan!” kata suami saya. “Jangan, Lilo mau kamera!” “Lho itu kan kamera Om Nor, kalau Lilo ingin punya kamera, Lilo harus berdoa dulu!” Rupanya suami saya ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengajar anak saya. “Ayo Pak, kita berdoa!” Suami saya pun menyetujui. “Tuhan Yesus, Lilo berdoa supaya Lilo bisa mempunyai sebuah kamera digital, agar Lilo bisa foto-foto!” Suami saya memimpinnya berdoa, “Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Dan respon spontannya, “Mana kameranya?”

Anak saya sangat tertarik dengan ikan. Kami memasang sebuah games tentang ikan dalam komputer kami. Di akhir beberapa levelnya ditunjukkan siluet ikan besar yang nantinya akan menjadi musuh di level tertinggi. Di atas kepala siluet ikan terdapat tanda tanya berwarna putih. Latar belakang musiknya yang seram membuat anak saya takut walaupun dia menantikan saat siluet ikan itu lewat.

Di rumah yang sekarang kami tinggali, kami menempati kamar di lantai dua. Jika kami akan masuk kamar, kami harus melewati sebuah ruangan terbuka yang lampunya dinyalakan bila dibutuhkan saja. Saat itu suami ada di kamar dan anak saya akan naik tangga dan merasa ngeri dengan ruangan gelap itu, dia berteriak, “Pak, Lilo takut tanda tanya!” dan suami saya kemudian turun, menggandengnya menaiki tangga dan masuk ke kamar. Kemudian saya menjelaskan ke dia, “Lilo kalau merasa takut, berdoalah pada Tuhan Yesus supaya Tuhan Yesus menemani Lilo sehingga Lilo nggak takut lagi!” “Ayo kita berdoa” katanya. “Tuhan Yesus, saat ini Lilo merasa takut. Tolong Lilo, temani Lilo supaya tidak takut lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!” Sejak saat itu, ketika dia melewati ruangan itu, dia akan berkata, “Lilo nggak takut tanda tanya lagi. Karena Tuhan Yesus menemani Lilo!”

Saat ini usia Lilo 2 tahun 8 bulan, dan dia sedang berdoa untuk rumah baru. Terjadilah apa yang menjadi imannya. Dan saya pun belajar beriman seperti iman anak saya.

Gadis Kecil di Tepi Sungai ~1

Seorang gadis kecil duduk sendirian di tepi Sungai Hitam. Biasanya dia bersama teman-temannya atau dengan adik laki-lakinya, namun kali ini dia sendirian saja. Ya, karena dia sedang ingin sendirian saja. Dia ingin memikirkan sesuatu, tepatnya berdoa untuk sesuatu. Untuk orang tuanya, untuk keluarganya, dan untuk dirinya sendiri. Keluarganya sedang dalam masalah besar, antara hidup dan mati.

Dia memilih tepi Sungai Hitam, karena dia sangat mengagumi sungai ini. airnya jernih, suaranya gemericik menyejukkan hati. Hampir setiap hari dia meluangkan waktunya untuk duduk dan mengagumi sungai ini. Kata orang sungai ini sangat panjang lebih dari 1.500 mil. Dia sendiri sulit membayangkan seberapa panjang 1.500 mil itu. Sungai ini berasal dari gunung yang jauh tak terlihat. Kata orang ada danau besar di sana yang menjadi asal sungai ini. Tetapi ada orang yang berkata, bukan dari danau itu, melainkan dari sungai kecil yang terus mengalir dari atas gunung. Entahlah, dia sendiri kurang tertarik dengan asal sungai ini. Lebih-lebih banyak cerita yang menyeramkan dari orang-orang yang pernah mencoba ke sana. Orang-orang itu menjumpai buaya, ular, dan binatang aneh lainnya. Jalannya juga gelap dan berbatu-batu. Belum cerita-cerita takhayul lainnya.

Yang lebih menarik baginya adalah arah sungai ini mengalir. Ayahnya bercerita kepadanya, sungai ini menuju lautan yang luas. Sebelum mencapai lautan, sungai ini terpecah menjadi beberapa aliran kecil, namun masih cukup lebar untuk dilewati. Di daerah inilah terdapat pertemuan antara penjual dan pembeli. Banyak saudagar kapal dari jauh yang membawa dagangan mereka. Sementara orang-orang daratan membawa hasil bumi dan ternak mereka untuk dijual. Selain itu banyak sekali hiburan yang ditawarkan di kawasan ini. Yang paling menarik hatinya adalah para pedagang itu dan keluarganya. Mereka tampan-tampan dan cantik-cantik. Pakaian mereka gemerlapan. Perhiasan mereka tampak pas di wajah mereka yang menarik. Dan yang lebih mengagumkan lagi, mereka sangat pandai menari. Beberapa sempat datang ke desanya, karena laut sedang tidak bersahabat maka mereka memperpanjang waktu singgah mereka dan berkunjung ke desa-desa yang agak jauh.

Dia pernah berniat menyusuri sungai itu. Dia pernah mengajak adik laki-lakinya untuk melakukan hal ini. Pagi-pagi mereka berangkat dari rumah dengan bekal makanan dan minuman yang menurutnya cukup. Namun di tengah jalan mereka membatalkan rencana ini karena adiknya merengek kecapekan dan minta pulang. Sampai sekarang dia belum bertemu teman yang cocok untuk melakukan rencana ini lagi. Ayahnya berjanji akan mengajaknya suatu hari nanti kalau air sungai cukup banyak sehingga bisa disusuri dengan perahu. Dia menanti-nantikan saat itu.

Ada hal lain yang dia kagumi dari sungai ini. Sungai itu adalah sungai ajaib! Ya, sangat ajaib. Luapan air banjir dari sungai ini sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Saat banjir itulah semua orang bisa makan ikan. Sedangkan kalau tidak ada banjir, hanya gandum hasil panen merekalah yang menjadi santapan sehari-hari. Sebenarnya hasil panen mereka juga ditentukan oleh luapan sungai itu. Kalau sungai itu meluap tanahnya akan subur dan hasil panen akan bagus, sehingga layak dijual dan mereka bisa membeli barang-barang yang lain, seperti meja, kursi dan tembikar. Bahkan tahun lalu ayahnya dapat membeli tenda baru dari hasil panen mereka.

Saat ini dia sedang sedih, ibunya beberapa bulan yang lalu melahirkan seorang adik laki-laki. Adiknya itu lahir tepat beberapa saat setelah Raja Mesir murka melihat banyaknya orang Israel yang berdiam di Mesir dan memerintahkan semua bayi laki-laki Ibrani dilemparkan ke dalam sungai ini. Dia sangat sedih karena adiknya akan mati. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Dia menanti-nantikannya sejak masih dalam perut ibunya. Setiap ada kesempatan dia bercerita dan bernyanyi di depan perut ibunya supaya bisa menghibur adik kecilnya ini. Yang dilakukannya itu pernah hampir membuat dia dan adiknya yang berusia lima tahun bertengkar. Kata adiknya, yang dilakukannya itu bodoh. Untung ibu bisa menjelaskan, sehingga membuat adiknya terdiam. Menurutnya adiknya itulah yang cemburu. Mungkin dia khawatir kalau adik yang di dalam perut ini laki-laki akan menjadi saingannya. Karena dia sangat penakut. Dia tersenyum kalau mengingat hal itu.

Dan yang membuat sedih lagi adiknya harus mati di sungai ini. Sungai yang sangat dikaguminya. Sulit sekali dia membayangkan kalau hal itu terjadi. Dia tidak akan mungkin mampu duduk di sini menikmati sungai ini. Karena dia sangat sayang adiknya. Duduk di sini setelah adiknya mati pastilah akan membuatnya merana. Mungkin saat ini saat terakhir dia duduk di sini.
“Miriam, kemarilah nak!” terdengar ibunya memanggil.
“Tolong jaga adikmu ini. Ibu akan membantu ayahmu dulu. Kata orang-orang nanti malam akan ada banjir di sungai ini. Kita harus menyiapkan hasil panen kita di perahu supaya bisa dijual ayahmu di hulu.” Ibunya menjelaskan ketika ia mendekat.
“Iya, bu!” jawabnya. Ibunya segera merapikan diri dan bergegas pergi.
“Ibu!”
“Iya, ada apa lagi? Coba kau beri minum, kalau adikmu menangis! Hati-hati jangan sampai ketahuan para hamba raja!”
“Bolehkah saya bawa adik ke tepi sungai?”
“Apa? Mau kau bawa adikmu ke tempat akhir hidupnya? Belum waktunya Miriam!”
“Bukan, Bu! Di sana sejuk dan tenang. Pasti adik sangat senang dan menjadi lebih tenang, daripada di rumah panas!”
“Terserah kau sajalah! Tapi hati-hati dan jangan sampai ketahuan!”
“Iya, bu! Aku tahu!”

Gadis kecil itu segera membungkus adiknya dengan kain. Dia berjalan lambat sambil sesekali menggoyang gendongannya agar adiknya tenang. Sesampainya di tepi sungai, tepat dia duduk tadi, dibukanya tudung penutup kepala adiknya. Terlihat adiknya tersenyum. Mungkin adiknya mulai menikmati sejuknya udara dan merdunya gemericik air sungai itu. Dia mulai bersenandung. Dan adiknya pun akhirnya tertidur.
~*~

Malam pun menjelang. Dia kembali ke tepi sungai itu, namun dia tidak lagi sendirian. Suasana di tepi sungai itu tampak ramai. Beberapa perahu yang biasanya hanya terikat, tampak disiapkan dan mulai mengapung. Yah, permukaan air mulai naik.

Dia tidak bisa lagi duduk di tempat biasa. Dia harus berdiri agak jauh dari tepi sungai. Selain karena banyak orang yang sedang bekerja di sana juga karena air bisa datang tiba-tiba dan mengejutkan. Namun kejutan itulah yang dinantikan banyak orang.

Saluran-saluran air dibersihkan, supaya air bisa masuk dengan mudah ke lahan pertanian. Semua orang tampak bersemangat hari ini. Sungguh, sungai ini adalah sungai karunia Allah yang membawa sukacita bagi bangsanya! Ah, andaikan sungai ini bisa juga memberikan jalan keluar bagi permasalahan keluarganya juga!

Di kejauhan tampak beberapa pegawai istana lalu lalang. Pemandangan itu membuat hatinya bergejolak. Ya, Putri Firaun juga bersiap-siap untuk mandi. Dia sejak dulu memang mengagumi putri itu. Putri itu tidak hanya cantik, tetapi juga mempesona. Dia sendiri belum pernah berbicara dengan beliau, tetapi kata orang dia ramah dan baik hati, dan dia percaya itu! Pada masa-masa seperti ini, dia biasanya mencari tempat yang bisa leluasa mengamati sang putri mandi tanpa ketahuan. Kalau ketahuan dia bisa dimarahi orangtuanya. Tidak sopan! Padahal sebenarnya dia tidak bermaksud kurang ajar, dia hanya ingin mengagumi.

Namun, malam ini ada yang mengganjal hatinya ketika melihat putri yang cantik itu. Dia kembali teringat dengan keluarganya. Ah, andaikan putri itu bisa menolongnya! Andaikan dia bisa berbicara dengannya. Andaikan dia bisa mengusahakan suatu perubahan bagi keluarga, terutama untuk adiknya. Ah, masakan dia harus bergantung pada putri Mesir itu? Mereka kan percaya pada dewa sungai ini bukan pada Tuhan yang menciptakan sungai ini? Dia sendiri waktu kecil senang dengan dewa yang diceritakan orang-orang Mesir itu. Namun ketika dia mendengarkan cerita dari ayahnya tentang perbuatan besar yang Tuhan kerjakan bagi bangsanya dulu, dia memutuskan untuk percaya pada Tuhan saja.

Tuhan menyelamatkan bangsanya melalui Yusuf, saudara kandung bapa leluhurnya, yang dikirim lebih dulu ke Mesir untuk menyelamatkan bangsanya. Bapa leluhurnya sendiri, Lewi, bersekongkol dengan saudara-saudaranya untuk menyingkirkan Yusuf dari antara mereka. Setelah mengalami berbagai peristiwa yang menyusahkan dan menyenangkan akhirnya mereka semua tahu bahwa Tuhan yang menghendaki segala sesuatunya terjadi.

Satu perkataan Yusuf yang selalu diingat-ingat setiap orang dari bangsanya adalah, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Dia sendiri juga setuju dengan hal itu.

Gadis kecil itu terus memikirkan kata-kata Yusuf itu. Dan dia kembali asyik mengamati persiapan pegawai istana di Teberau itu. Dan dia menjadi makin yakin bahwa Raja Mesir mereka-rekakan yang jahat bagi bangsanya, tetapi Tuhan sanggup juga untuk mereka-rekakannya bagi kebaikan bangsanya.

Malam pun makin larut, gadis kecil itu pun kembali ke rumah untuk beristirahat karena banyak tugas yang harus dia kerjakan esok.
~*~

« Older entries